ADVERTISEMENT

Kamis, 28 Feb 2013 15:03 WIB

Cuci Otak Penangkal Stroke?

Dahlan Iskan: Siapa Bilang Cuci Otak Aman?

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Jakarta -

Tulisan Menteri BUMN Dahlan Iskan tentang pengalaman terapi brainwash kembali menyulut kontroversi yang sebenarnya memang sudah berkembang sejak beberapa tahun lalu. Beberapa dokter menilai terapi ini melanggar prinsip kehati-hatian.

Adalah Dr Pagan Pambudi SpS, MARS, seorang dokter spesialis saraf sekaligus ahli farmakologi yang menuding tulisan Dahlan terlalu hiperbola atau dilebih-lebihkan. Sementara Dr Pagan menegaskan dunia kedokteran sangat mengutamakan safety atau keamanan.

"Siapa bilang (bahwa) saya bilang aman? Saya nggak pernah menulis di situ bahwa itu (brainwash) aman. Nggak pernah," elak Dahlan saat ditemui usai diskusi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), seperti ditulis Kamis (28/2/2013).

Di kalangan dokter, keamanan terapi brainwash yang dikembangkan oleh dr Terawan Agus Putranto, SpRad dari RSPAD Gatot Subroto ini memang masih diragukan. Jika demikian, apa yang membuat Dahlan berani mencoba sesuatu yang belum terjamin keamanannya?

"Saya jangankan itu (brainwash). Menabrakkan mobil ke tebing saja saya berani, jangankan nyoba itu," jawab Dahlan, merujuk pada uji coba mobil listrik Tucuxi yang menabrak tebing di Magetan, Jawa Timur saat dikendarainya sendiri beberapa waktu silam.

Namun justru pernyataan Dahlan yang membanding-bandingkan terapi brainwash dengan mobil listrik Tucuxi inilah yang membuat cibiran semakin meruncing. Dr Pagan menganggap, industri farmasi dan kedokteran menerapkan uji keamanan jauh lebih ketat daripada industri otomotif.

"Pak DI tidak boleh menyamakan tindakan dan obat medis dengan Tucuxi yang sudah dicoba di jalan umum sebelum lolos berbagai uji keamanan dan kita semua tahu hasilnya 'braaaaak' untung beliau selamat," kata Dr Pagan dalam tulisannya tentang brainwash.

Meski demikian, Dahlan merasa tidak punya maksud untuk menjerumuskan pembacanya dengan informasi yang menyesatkan. Ia berdalih, fakta bahwa terapi ini masih kontroversial dan belum bisa diterima oleh sebagian dokter juga telah ia sertakan sebagai pertimbangan bagi pembaca.

"Di situ kan saya tulis. Tidak ada yang saya sembunyikan. Bahwa dokter masih banyak yang tidak bisa terima, itu kan saya tulis juga," lanjut Dahlan.

(up/vit)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT