Rabu, 21 Mei 2014 18:45 WIB

Ulasan Khas Ukuran Payudara

Bukannya Montok, Sembarang Besarkan Payudara Berisiko Kanker

Nurvita Indarini - detikHealth
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Punya payudara yang montok menjadi dambaan beberapa perempuan. Tak heran ada yang tergiur prosedur pembesaran payudara, apalagi jika harganya murah dan tidak ribet. Tapi hati-hati ya, jangan sembarangan melakukan prosedur pembesaran payudara. Apalagi jika dilakukan oleh orang yang tidak ahli di bidangnya. Risiko kanker menghantui lho.

"Operasi plastik pemasangan implan tidak akan menjadi faktor pemicu yang menyebabkan berubahnya sifat sel. Lain halnya dengan pekerjaan-pekerjaan aspal acak adul suntik-suntik di salon atau di tukang suntik keliling yang menjajakan iming-iming suntik," ujar dr Ahmad Fawzy, SpBP, staf pengajar khusus Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, dalam perbincangan dengan detikHealth dan ditulis pada Rabu (21/5/2014).

Dituturkan dr Ahmad, setiap injeksi bahan kimia yang tidak secara klinis medis aman dan tidak dilakukan oleh dokter spesialis bersesuaian, akan berisiko merusak sel-sel di jaringan payudara. "Imbas akhirnya bisa berpotensi menjadi kanker," imbuhnya.

Para ahli bedah payudara biasanya melakukan operasi pembesaran payudara dengan implan, di mana dilakukan dengan membuat kantong di antara dasar payudara dan sejumlah area kelenjar payudara. Tidak ada proses kimiawi terlibat di situ, karena itu prosedur ini relatif bebas risiko kanker.

Dipaparkan dr Ahmad, pada perempuan yang memiliki ketebalan dan jumlah kelenjar yang cukup banyak, implan diletakkan di antara dasar otot dan kelenjar. Sudah pasti akan ada jaringan payudara yang tercederai selama proses operasi ini. Akan tetapi mengingat masih banyak jumlah terbesar kelenjar yang tidak cedera, maka diharapkan tidak ada gangguan produksi air susu ibu (ASI).

"Pada wanita yang memiliki jumlah kelenjar yang tipis dan sedikit, implan diletakkan di bawah otot sehingga tidak ada pencederaan dari kelenjar susu payudara yang bersangkutan dan produksi ASI tidak ada gangguan," jelas dr Ahmad.

Mengecil Setelah Periode Menyusui

Pada saat hamil dan menyusui, ukuran payudara perempuan mengalami perubahan menjadi lebih besar. Hal ini dikarenakan kelenjar susu di payudara menjadi bertambah banyak dan bertambah besar guna memproduksi ASI.

Tak hanya itu, hormon juga menyebabkan lapisan lemak payudara menjadi lebih tebal. Massa payudara pun menjadi bertambah. Hal ini ditambah lagi tarikan mulut bayi saat menyusu pada ibunya, plus gaya gravitasi yang ada membuat adanya beban kerja payudara.

Seperti dikutip dari situs pribadi dr Ahmad, bedah-plastik.com, di suatu saat jaringan penggantung akan mencapai titik jenuh dan kemudian kehilangan elastisitasnya. Alhasil payudara jadi mengendur, sehingga posisi puting susu tidak lagi berada pada level sejajar lipatan bawah payudara. Perubahan puting susu ini bisa dikoreksi lewat operasi plastik.

Adakah risikonya? "Mengenai risiko, selama klien/pasien bisa menaati anjuran praoperasi dan pascaoperasi maka tidak ada risiko serius yang bisa timbul, kecuali hanya masalah bengkak dan nyeri pascaoperasi sebagaimana lazimnya," tuturnya.

Saat periode menyusui berakhir, tubuh akan melakukan adaptasi ulang. Karena tidak lagi dibutuhkan kinerjanya, kelenjar-kelenjar susu yang awalnya membesar mulai menyusutkan diri (involusi) ke ukuran semula pada saat tidak aktif. "Saat seorang ibu mulai menyesuaikan berat badannya pascapersalinan (dengan diet dan/atau latihan olah raga), maka cadangan lemak di seluruh tubuh ikut menipis dan dimetabolisme," terang dr Ahmad.

Dengan adanya penipisan jaringan lemak seluruh tubuh, maka jaringan lemak payudara juga akan ikut menipis. Ditambah lagi penyusutan kelenjar susu, hal itu membuat payudara 'seolah-olah' mengecil. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah payudara kembali pada ukuran awal sebelum hamil dan menyusui. Meski mengecil, namun payudara mengalami pengenduran.

Menurut dr Ahmad, ibu yang gemuk semakin berisiko mengalami kekenduran payudara. Selain itu, semakin banyak kehamilan yang dijalani perempuan maka semakin besar risiko dan berat tingkat kekenduran payudara. "Ukuran bra awal sebelum hamil (semakin besar maka semakin besar risiko dan berat tingkat kekenduran payudara), kebiasaan merokok ibu (mempengaruhi elastisitas jaringan ikat) dan usia ibu," imbuh dr Ahmad dalam situs pribadinya.

(vit/up)