Rabu, 21 Mei 2014 19:30 WIB

Ulasan Khas Ukuran Payudara

Oles-oles Krim Demi Dapatkan Payudara Besar, Ini Kata Dokter

Nurvita Indarini - detikHealth
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Di pasaran beredar krim yang diklaim bisa mengencangkan dan memperbesar payudara. Menggiurkan memang bagi perempuan yang ingin memperbesar 'asetnya'. Apalagi harganya jauh lebih murah ketimbang melakukan operasi pembesaran payudara. Tapi seefektif apa sih krim-krim ini?

"Umpamakan ban mobil yang kurang angin. Kurang angin artinya masih ada udara di dalam ban tetapi tidak cukup banyak untuk membuat bentuk ban jadi bulat penuh dan layak jalan. Dengan menambah angin ke dalam ban maka bentuk ban akan jadi bulat penuh dan layak jalan. Seperti itulah analogi menambahkan volume (dengan implan) pada prosedur operasi plastik payudara," terang dr Ahmad Fawzy, SpBP, staf pengajar khusus Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, dalam perbincangan dengan detikHealth dan ditulis pada Rabu (21/5/2014).

Dituturkan dr Ahmad, jika elemen-elemen dalam kandungan krim tersebut memang bisa merangsang pertumbuhan kelenjar, maka mungkin saja menyebabkan pembesaran payudara. Namun dr Ahmad mengingatkan payudara tidak hanya berisi kelenjar.

"Saya tidak pernah memberi alternatif saran kepada klien-klien saya tentang hal-hal yang tidak pernah secara ilmiah medis terbukti kuat. Termasuk soal krim payudara," sambungnya.

dr Ahmad juga mengaku kesulitan untuk memaparkan apa saja kadungan krim pembesar payudara. Hal ini dikarenakan tiap produk bisa berbeda-beda komposisinya. "Secara pribadi saya tidak pernah tertarik untuk tahu elemen-elemen herbal apa saja yang ada di dalamnya," tutup dr Ahmad.

Dihubungi terpisah, Beta Subakti Nata'atmaja., M.D dari Departemen Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya, menyebut selama krim pembesar payudara tersebut mengandung zat yang dapat merangsang hormon yang mempengaruhi pertumbuhan jaringan lemak atau kelenjar payudara maka pembesaran itu dimungkinkan.

 "Tetapi saya tidak menyarankan karena isi dan dosis krim-krim tersebut sering tidak sesuai, tidak jelas, tidak terkontrol penyerapan di kulitnya atau bahkan berbahaya buat kesehatan," ucap dr Beta.

(vit/up)