Jumat, 26 Jul 2019 17:22 WIB

Tips Dokter Agar Tidak Terkecoh Obat Palsu di Apotek

Rosmha Widiyani - detikHealth
Ilustrasi obat palsu. Foto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta - Masih maraknya penjualan obat palsu di beberapa apotek bisa sangat meresahkan, apalagi obat palsu ini cukup sulit dibedakan. Oleh karena itu, ahli penyakit dalam dr Eka Ginanjar, Sp.PD-KKV, FINASIM, FACP membagikan beberapa tips yang bisa digunakan.

Yang pertama, dr Eka menyarankan untuk membeli obat di tempat resmi yang teregistrasi. Harga mungkin lebih mahal, namun kualitas tentu sudah akan terjamin.

Kemudian pastikan untuk membeli obat yang sesuai dengan resep dokter. Hindari juga membeli lewat situs jual-beli online, lebih baik membelinya langsung.

"Kecuali dikasih tahu link dari apotek yang sudah teregistrasi jadi bisa telepon. Bukan yang beli langsung di situs-situs, nggak jelas siapa yang jual dan beli dari mana. Pakai bismillah, karena orang jahat banyak," tuturnya kepada detikHealth melalui sambungan telepon, Jumat (26/7/2019).


Perhatikan juga kemasan dan efek obat. Menurut dr Eka, dalam kasus obat palsu tersebut kebanyakan obat yang dipalsu adalah obat yang digunakan untuk penyakit kronis. Maka konsumen harus curiga apabila tidak ada efek yang terjadi, misal gula darah tidak turun pada pengidap diabetes.

Dihubungi terpisah, Prof Dr dr Pradana Soewondo, SpPD-KEMD dari RS Premiere Jatinegara berharap ada penyederhanaan tata niaga perdagangan obat dan pengawasan yang lebih aktif. Dan juga lebih baik untuk menghilangkan sistem harga dua rezim.

"Hilangkan sistem harga dua rezim, rezim BPJS dan rezim umum reguler. Ini membuat rembesan dan keuntungan bagi pemain-pemain seperti para apoteker yang membeli harga BPJS dijual di jalur umum. Satu harga asli, jangan pakai dua harga tapi kemasan harus sama. Satu pen insulin harga BPJS 87 ribu, harga apotik 200 ribu. Nggak tahu mana yang asli, kemasan sama," tandasnya.



Simak Video "Hati-hati! Obat Penyakit Diabetes Paling Banyak yang Dipalsukan"
[Gambas:Video 20detik]
(frp/up)