Jumat, 02 Agu 2019 10:30 WIB

Ini Alasan Minimnya Ibu Indonesia Jalankan ASI Eksklusif

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Ilustrasi menyusui. Foto: iStock
Topik Hangat Pekan ASI Sedunia 2019
Jakarta - Pekan ASI Sedunia atau World Breastfeeding Week yang diselenggarakan setiap 1-7 Agustus, diperingati tiap tahunnya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terkait pentingnya ASI bagi anak. Sangat disayangkan, data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2017 menyatakan, di Indonesia hanya 35 persen ibu yang berhasil menjalankan ASI eksklusif.

"Kegagalan yang terjadi banyak disebabkan oleh kurangnya pengetahuan, kepercayaan diri, hingga tidak adanya dukungan dari orang sekitar," tutur dr Ameetha Drupadi, CIMI, Konselor Laktasi, saat ditemui Multivision Tower, Jakarta Selatan, Kamis (01/8/2019).

Menurut dr Ameetha, sosok ayah sebagai salah satu orang terdekat di sekitar ibu menyusui memiliki peran penting dalam meningkatkan 'hormon bahagia' saat aktivitas menyusui.

"Pada akhirnya, 'hormon bahagia' yang dihasilkan itu dapat berkontribusi dengan baik dan memacu hormon prolaktin atau hormon pelancar ASI," ujarnya.


dr Ameetha juga menyebutkan beberapa hal lainnya yang dapat dilakukan ayah untuk ibu selama masa menyusui, seperti mendampingi ibu dalam memperoleh informasi seputar menyusui. Selain itu, peran ayah juga harus memastikan asupan nutrisi sang ibu tercukupi.

Asupan nutrisi seperti mengonsumsi zat gizi mikro juga dapat membantu memperlancar proses menyusui, menyehatkan ibu dan bayi, serta memaksimalkan tumbuh kembang bayi.

"Nutrisi yang dapat dikonsumsi ibu untuk membantu meningkatkan produktivitas ASI sangat beragam. Namun, yang masih menjadi favorit adalah daun katuk yang mengandung steroid, polifenol yang dapat meningkatkan kadar prolaktin, serta antioksidan," jelas Ameetha.



Simak Video "Kata WHO Soal Kemungkinan Penularan Corona Lewat ASI"
[Gambas:Video 20detik]
(wdw/up)
Topik Hangat Pekan ASI Sedunia 2019