Sabtu, 28 Sep 2019 12:13 WIB

Mengapa Gangguan Kejiwaan Kerap Disangka Kena Santet? Ini Kata Psikiater

Widiya Wiyanti - detikHealth
Ilustrasi santet. Foto: iStock
Jakarta - Santet, pelet, atau guna-guna merupakan budaya yang masih berkembang dan dipercaya di Indonesia. Tetapi tidak semuanya benar merupakan 'kiriman' orang jahil. Ada pula yang memang murni karena masalah kesehatan, seperti gangguan jiwa.

Menurut psikiater dari Omni Hospital Alam Sutera dr Andri, SpKJ, FACLP, kesalahpahaman kebanyakan orang soal gangguan kejiwaan yang disangka santet terjadi karena ketidakpahaman orang mengenai gejala-gejala gangguan kejiwaan yang bahkan tidak terlihat.

Gangguan kejiwaan terjadi karena adanya gangguan di sistem saraf pusat yang dalam hal ini merupakan otak. Sehingga mengakibatkan seseorang mengalami perubahan, baik pada pikiran, perasaan, ataupun perilakunya.



"Kadang-kadang kita masih bingung kalau ada gangguan perilaku, perasaan atau pikiran seperti itu. Seolah-olah kalau orang jadi aneh, menjadi berbeda dari sebelumnya, menjadi tidak sesuai, itu sebenarnya akhirnya menjadikan dia terpikirkan orang ini kena santet atau guna-guna," ujarnya kepada detikcom, Jumat (27/9/2019).

dr Andri mencontohkan orang yang mengalami kejang atau epilepsi. Jika seseorang sering mengalami gangguan seperti itu dan tidak diketahui, lama kelamaan dapat menyebabkan gangguan pada perilaku dan pikirannya. Hal ini lah yang tidak terlihat dan terdeteksi seperti gangguan pada fisik.

Selain itu, stigma soal gangguan kejiwaan pada masyarakat Indonesia disebut dr Ari masih cukup besar. Sehingga kebanyakan orang masih beranggapan lebih baik mendatangi dukun atau orang 'pintar'.

"Padahal kalau dia datang ke dokter jiwa awal saja dia akan lebih baik pasti ke depannya, tertolong lebih bagus kualitas hidupnya," tandas dokter yang juga pemilik channel Youtube Andri Psikosomatik itu.



Simak Video "Video Kuburan Massal Jenazah Terinfeksi Virus Corona di New York"
[Gambas:Video 20detik]
(wdw/fds)