Sabtu, 14 Nov 2020 08:00 WIB

Peneliti Ungkap 4 Gejala COVID-19 Ringan yang Wajib Diwaspadai

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Mutasi virus corona yang membingungkan para ilmuwan Ilmuwan ungkap 4 gejala COVID-19 ringan yang perlu diwaspadai. (Foto: BBC World)
Jakarta -

Gejala COVID-19 yang kerap muncul seperti batuk, demam bahkan sesak napas masih diyakini para ahli sebagai gejala utama. Namun, tak sedikit pasien Corona mengalami gejala COVID-19 ringan.

Gejala COVID-19 ringan umumnya membuat pasien sulit mengenali tanda awal terinfeksi. Sebab, hingga saat ini gejala khas COVID-19 masih berdasarkan pada tiga gejala utama seperti batuk, demam, dan sesak napas.

Para peneliti menyebut gejala COVID-19 ringan ini perlu diwaspadai. Kondisi gejala COVID-19 ringan bisa memburuk jika tak segera diatasi, apa saja?

1. Sakit perut

Beberapa pasien COVID-19 mengidap sakit perut sebelum akhirnya mengeluhkan tiga gejala utama COVID-19 lainnya. Seperti yang dimuat dalam American Journal of Gastroenterology, penelitian menyebut ada 48,5 persen pasien COVID-19 mengalami gangguan di perut.

Studi menyebut masalah di perut akibat infeksi COVID-19 bisa menyebabkan diare. Hal ini berdasarkan analisis data 204 pasien COVID-19 di China.

Selain diare, pasien COVID-19 dilaporkan mengalami muntah-muntah.

"Namun, diare telah dilaporkan sebagai gejala awal pada pasien yang kemudian dinyatakan positif COVID-19," sebut pakar dari Inggris, Dr Diana Gall kepada Express UK.

2. Infeksi mata

Selain masalah di perut, dokter mengingatkan kemungkinan infeksi mata menjadi tanda awal terinfeksi COVID-19. Menurut laporan American Academy of Ophthalmology, ada sekitar 1 hingga 3 persen yang mengalami kondisi ini berkaitan dengan COVID-19.

"Mata merah adalah tanda 'paling penting' bahwa pasien mengidap COVID-19," jelas Chelsey Earnest, seorang perawat di Life Care Center di Washington.

"Mereka memiliki, seperti mata alergi. Bagian mata yang putih bukan merah. Ini lebih seperti mereka memiliki perona mata merah di bagian luar mata mereka," lanjutnya kepada CNN International.

Namun, bukan berarti setiap orang khawatir berlebihan dengan munculnya infeksi mata berkaitan dengan COVID-19. Sebab, ada banyak faktor yang bisa mendasari kondisi mata seperti itu.

"Jika Anda melihat seseorang dengan mata merah, jangan panik. Bukan berarti orang tersebut terinfeksi virus Corona," jelas studi American Academy of Ophthalmology.

3. Kabut otak

'Kabut otak' biasanya merupakan gejala yang terkait dengan 'Long COVID' atau gejala berkepanjangan. Namun, beberapa pasien COVID-19 juga mengalami gejala ini sebagai tanda awal infeksi.

Thea Jourdan, salah satu pasien COVID-19, mengatakan kepada The Daily Mail, bahwa dia pertama kali mengira telah terinfeksi ketika merasakan ada yang aneh di tenggorokannya dan mengeluh sakit kepala.

"Awalnya saya merasa lelah, seolah-olah saya menyeret diri saya sendiri dan tidak punya pilihan selain pergi ke tempat tidur saya. Saya tidak batuk berarti dan saya tidak demam," keluhnya.

"Saya juga mengalami brain fog atau kabut otak. Saya bahkan tidak dapat mengisi formulir dari sekolah anak-anak. Saya hanya ingin tidur, sambil berusaha menjaga anak-anak agar aman dan jauh dari area karantina saya, kamar tidur saya," ungkapnya.

Tak hanya Thea, pasien COVID-19 lain juga mengalami kondisi ini. Adalah Christy, wanita asal Seattle yang menggambarkan bagaimana COVID-19 membuatnya sakit kepala, sinus, hingga kabut otak, seperti kesulitan untuk fokus mengerjakan sesuatu.

"Mereka yang mengalami ini akan dihadapkan pada ketidakmampuan 'melumpuhkan' untuk berpikir jernih," Dr Hilary Jones.

Kelelahan juga termasuk gejala COVID-19. Penjelasan ada di halaman berikut.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Reaksi Kulit yang Bisa Terjadi Pada Pasien Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]