Minggu, 20 Des 2020 15:04 WIB

Fakta-fakta Mutasi Terbaru Virus Corona di Inggris yang Lebih Menular

Ayunda Septiani - detikHealth
Pemerintah Kota Bekasi menggelar tes massal corona terhadap penumpang KRL di Stasiun Bekasi. Tes kali ini menggunakan alat yang lebih akurat berupa polymerase chain reaction (PCR). Agung Pambudhy/Detikcom. 

1. Penumpang Commuter line mengikuti test massal COVID 19 dengan metode polymerase chain reaction (PCR) di Stasiun Bekasi, Jawa Barat, Selasa (5/5/2020).
2. Sebanyak 300 penumpang kereta dipilih secara random mengikuti tes ini. 
3. Metode tes PCR adalah mengetes spesimen yang diambil dari dahak di dalam tenggorokan dan hidung lalu diswab. 
4. Tes ini dianggap paling akurat dibandingkan rapid test yang hanya untuk mendeteksi reaksi imun dalam tubuh.
5. Data terkini kasus positif Covid-19 di Kota Bekasi telah mencapai 249 orang. Pasien sembuh corona 126, dalam perawatan 95, sedangkan meninggal 28 orang.
6. Test ini dibantu petugas dari RSUD Kota Bekasi dan Dinkes Kota Bekasi.
7. Sebelum masuk ke stasiun, penumpang lebih dulu menjalai tes PCR secara acak. Setelah itu, sampel lemdir dari hidung akan diuji di Labiratorium Kesehatan Kota Bekasi.
8. Hasil pemeriksaan ini diharapkan memberi gambaran kondisi penumpang ‎KRL apakah ada yang terpapar COVID-19 atau tidak.
9. Sebelumnya di KRL ada tiga orang yang dinyatakan positif virus COVID-19 berdasarkan hasil test swab PCR yang dilakukan pada 325 calon‎ penumpang dan petugas KAI di Stasiun Bogor. 
10. Sejumlah kepala daerah meminta pemerintah pusat untuk menstop operasional KRL guna menghambat penyebaran virus COVID-19
11. Hingga 4 Mei 2020 di Indonesia terdapat 11.587 kasus COVID-19 dengan kasus kematian 864 meninggal dan 1.954 sembuh.
12. Sampai kemarin pemerintah telah menguji 112.965 spesimen dari 83.012 orang di 46 laboratorium. Virus Corona COVID-19 (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Ilmuwan telah mengidentifikasi varian virus Corona COVID-19 baru di Eropa. Penyebarannya sangat cepat terjadi di Inggris bagian Selatan.

Hal Ini menyebabkan negara tersebut mengetatkan kembali lockdown atau pembatasan sosial yang kini sudah di level terketat, yakni tingkat tiga. Aturan akan berlaku mulai Rabu (16/12/2020) lalu.

Dikutip dari laman Science Focus, berikut beberapa fakta soal varian baru ini:

Dinamakan VUI - 202012/01

Jenis ini bernama 'VUI - 202012/01' karena varian pertama yang diselidiki pada bulan Desember. Public Health England (Lembaga kesehatan masyarakat Inggris) mengatakan hingga 13 Desember, terdapat 1.108 kasus terkait varian baru ini.

Belum cukup banyak penelitian apa potensi utama virus. Namun dikhawatirkan strain ini menyebarkan virus lebih cepat dan bisa berimplikasi pada makin sulitnya Corona dikendalikan.

Apakah vaksin akan efektif?

Vaksin bekerja dengan menunjukkan kepada tubuh bagian dari kode genetik virus. Sehingga sistem kekebalan kita dapat meningkatkan pertahanan.

Hal yang sepertinya tak mungkin, bahwa satu perubahan pada COVID-19, akan membuat proses ini kurang efektif. Namun seiring dengan waktu, karena banyaknya mutasi, bisa saja ini mempengaruhi vaksin.

Public Health England mengatakan varian baru virus ini mencakup mutasi pada protein spike (protein s/ protein lonjakan). Disebut protein spike karena bentuknya meruncing pada permukaan virus sehingga seperti mahkota.

Perubahan bagian pada spike protein menyebabkan virus Corona lebih mudah menular. Ini menyebar singkat di antara manusia.

Kepala petugas medis Inggris, Professor Chris Whitty mengatakan belum ada fakta bahwa vaksin tidak akan bekerja melawan strain baru. Namun tes tengah dilakukan untuk mendeteksi.

Bagaimana gejala strain COVID-19 terbaru ini dan apakah lebih mematikan? Lanjutkan ke halaman berikut.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3


Simak Video "WHO Kerja Keras Selidiki Varian Baru Covid-19 B.1.1.529"
[Gambas:Video 20detik]