Senin, 21 Des 2020 13:36 WIB

SBY Bicara Soal Mutasi COVID-19 di Inggris, Kaitkan dengan Pandemi Flu 1918

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono memberikan keterangan kepada awak media di Hotel Sultan, Jakarta, Selasa (30/09/2014). SBY menyatakan akan menerbitkan Perpu terkai Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) sebelum habis masa jabatannya. Grandyos Zafna/detikcom Susilo Bambang Yudhoyono soroti mutasi virus Corona COVID-19 di Inggris. (Foto ilustrasi: Grandyos Zafna)
Jakarta -

Mantan Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, ikut menyoroti mutasi virus Corona COVID-19 yang terjadi di Inggris. Dalam Twitter pribadinya, ia merasa khawatir dengan munculnya varian baru Corona yang disebut lebih menular.

Tak hanya itu, pria yang akrab dipanggil SBY ini juga berharap agar pemerintah melakukan langkah tegas agar virus Corona jenis baru ini tidak masuk ke Indonesia.

"Di Inggris muncul strain COVID-19 baru, yang lebih mudah & cepat menyebar. Pandemi Spanish Flu 1918, penyebaran virusnya juga cepat & mematikan; telan korban jiwa 50 juta lebih," Tulis SBY dalam tweetnya, Senin (21/12/2020).

"Saya berharap pemerintah lakukan langkah yang cepat & tepat untuk selamatkan kita dari COVID-19 baru ini," tambahnya.

Dalam sebuah studi, COVID-19 juga disebut sama mematikannya dengan pandemi flu 1918. Bahkan jumlah kematiannya diprediksi bisa lebih buruk jika para pemimpin dunia gagal dalam mengendalikannya.

"Apa yang ingin kami beritahukan kepada orang lain adalah ini (COVID-19) memiliki potensi seperti (pandemi) 1918. Ini bukan sesuatu yang bisa diabaikan seperti flu," kata penulis utama studi, Dr Jeremy Faust dari Harvard Medical School dikutip dari CNBC.

Diketahui, kala itu pandemi flu 1918 telah menewaskan lebih dari 50 juta orang di seluruh dunia.

Terkait adanya mutasi baru virus Corona, Menteri Kesehatan Inggris Matt Hancock pun telah memberitahukan bahwa kebijakan lockdown atau penguncian secara ketat akan dilakukan selama Natal dan tahun baru di London dan Inggris bagian tenggara untuk mencegah penyebaran virus tersebut.

"Kami bertindak sangat cepat dan tegas. Sayangnya strain baru ini di luar kendali. Kami harus mengendalikannya," tutur Hancock kepada Sky News dikutip dari Medical Xpres, Senin (21/12/2020).

Sementara itu, otoritas penasihat kesehatan Pemerintah Inggris pun menyebut varian mutasi baru virus penyebab COVID-19 ini memiliki tingkat penularan yang tinggi. Namun, hingga kini belum ada bukti yang menunjukkan varian mutasi ini lebih mematikan atau mempengaruhi vaksin.

"Kami telah memperingatkan Organisasi Kesehatan Dunia dan terus menganalisis data yang tersedia untuk meningkatkan pemahaman kami," tutur Kepala Petugas Medis Inggris, Chris Whitty melalui sebuah pernyataan dikutip dari Associated Press.



Simak Video "Apa Arti Kode B117 pada Varian Corona Inggris yang Masuk ke RI?"
[Gambas:Video 20detik]
(ryh/kna)