Rabu, 27 Jan 2021 07:30 WIB

Fakta-fakta Virus Nipah yang Diwaspadai Jadi Pandemi Baru di Asia

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Two black flying-foxes Pteropus alecto hanging in a tree, Kakadu National Park, Northern territory, Australia Fakta-fakta virus Nipah yang diwaspadai jadi pandemi baru di Asia. (Foto: ilustrasi/thinkstock)
Topik Hangat Ancaman Virus Nipah
Jakarta -

Meski pandemi COVID-19 belum usai, virus Nipah kini dikhawatirkan para ilmuwan jadi pandemi baru di Asia. Ahli virus asal Thailand di Red Cross Emerging Infectious Disease-Health Science Centre tengah mempelajari seberapa besar potensi virus Nipah jadi pandemi berikutnya di Asia.

Dari hasil analisa sampel spesies termasuk kelelawar, ditemukan hewan ini memicu ancaman pandemi baru seperti COVID-19, yaitu virus Nipah. Tingkat kematian virus Nipah pun dilaporkan cukup tinggi berkisar 40 hingga 75 persen.

"Ini sangat mengkhawatirkan karena belum ada obatnya dan tingkat kematian yang tinggi akibat virus ini," katanya dikutip dari BBC.

Dalam daftar WHO soal tinjauan setiap patogen yang memicu kedaruratan kesehatan masyarakat, virus Nipah masuk ke dalam 10 besar daftar tersebut. Apa saja yang perlu diketahui soal virus Nipah? Berikut fakta-faktanya:

1. Gejala virus Nipah

Wabah virus Nipah sudah pernah terjadi di Malaysia pada tahun 1998, dan di India 2018 lalu. Dikutip dari laman resmi WHO, wabah ini juga sempat menyebar ke Singapura. WHO menyebut ada lebih dari 100 orang dinyatakan meninggal dunia akibat virus Nipah.

Gejala virus Nipah pada umumnya muncul dalam 4-14 hari usai terinfeksi. Ada gejala awal yang muncul termasuk demam dan sakit kepala, yang bisa berlangsung 3-14 hari.

Namun, di beberapa kasus gejala virus Nipah bisa memburuk hingga pasien mengalami koma dalam rentang wkatu 24-48 jam.

Berikut gejala virus Nipah, dikutip dari laman resmi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (AS).

Gejala ringan:

  • Demam
  • Sakit kepala
  • Batuk
  • Sakit tenggorokan
  • Muntah

Gejala parah:

  • Sulit bernapas
  • Kejang
  • Koma
  • Pembengkakan otak (ensefalitis)
  • Kematian

2. Penularan virus Nipah

CDC menyebut seseorang bisa tertular virus Nipah dari cairan seperti darah, uruin, dan air liur hewan yang terpapar virus Nipah. Selain itu, ada kemungkinan penularan virus Nipah terjadi antarmanusia seperti kasus yang dilaporkan antara keluarga dan perawat pasien yang terpapar.

"Kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi, seperti kelelawar atau babi, atau cairan tubuh mereka," tulis CDC.

Virus Nipah juga bisa ditularkan dari makanan yang terkontaminasi cairan hewan yang terinfeksi. Seperti buah-buahan atau kurma yang terkena air liur atau air seni kelelawar pembawa virus Nipah.

"Beberapa kasus infeksi NiV juga dilaporkan terjadi pada orang yang memanjat pohon tempat kelelawar sering bertengger," ujar CDC.

3. Virus Nipah belum ada obatnya

Belum ada obat resmi yang spesifik ditujukan untuk seseorang yang terpapar Virus Nipah. Selama ini perawatan pada pasien hanya untuk meredakan gejala yang muncul.

Meski begitu, menurut CDC, perawatan imunoterapi tengah dikembangkan dan dievaluasi untuk pengobatan pasien virus Nipah. Selain itu, remdesivir juga disebut memiliki kemungkinan efektif bekerja pada pasien virus Nipah, dilengkapi dengan pengobatan imunoterapi.

Obat ribavirin juga digunakan untuk mengobati sejumlah kecil pasien pada awal virus Nipah menyebar di Malaysia, tetapi seberapa manjur obat tersebut masih belum jelas.

Bagaimana cara mencegah virus Nipah dan darimana asal-usul nama virus tersebut? Simak lebih lengkap di halaman berikutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "5 Fakta Virus Nipah yang Dikhawatirkan Jadi Pandemi Baru Asia"
[Gambas:Video 20detik]
Topik Hangat Ancaman Virus Nipah