Minggu, 31 Jan 2021 09:00 WIB

Meski Diklaim Lebih Akurat, Tes Corona Anal Swab Hanya untuk Kelompok Tertentu

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Ilustrasi toilet Tes swab anal tak bisa digunakan untuk pengujian massal. (Foto: Thinkstock)
Topik Hangat Anal Swab COVID-19
Jakarta -

China telah mulai menggunakan anal swab untuk menguji mereka yang dianggap berisiko tinggi tertular COVID-19. Ketika kasus meningkat di seluruh dunia, China telah memberlakukan persyaratan yang lebih ketat pada kedatangan internasional.

Hanya saja pengujian ini tidak layak untuk pengujian massal dan metode ini hanya digunakan di kota-kota tertentu di China, seperti Beijing dan Qingdao, di antara kelompok berisiko tinggi tertentu, seperti kedatangan di luar negeri.

"Shanghai sebelumnya menggunakan tes usap anal sebagai salah satu standar untuk memulangkan pasien COVID-19 dari rumah sakit pada awal 2020, tetapi kemudian mencabut persyaratan tersebut" kata Lu Hongzhou, wakil direktur Pusat Klinik Kesehatan Umum Shanghai di Universitas Fudan di Shanghai, kepada Global Times.

Namun kini metode itu kembali diterapkan. Adanya tekanan atas pengendalian epidemi yang meningkat, beberapa kota di China menggunakan tes ini untuk kelompok-kelompok berisiko, termasuk orang yang kembali dari luar negeri dan kontak dekat dengan pasien.

Di Beijing dan Qingdao, Provinsi Shandong, China Timur, mewajibkan pendatang internasional untuk melakukan tes usap anal sebelum menyelesaikan periode karantina.

Sementara Yangzhou di Provinsi Jiangsu, juga mengadopsi metode ini dalam pemantauan rutin status kesehatan di antara pekerja rantai dingin.

Seorang pengguna internet Xiaohongshu, sebuah platform media sosial China, mengatakan bahwa dia mengalami "gangguan mental" ketika dia diberitahu bahwa harus mengambil usapan anal bersama dengan metode lain termasuk usap hidung, usap tenggorokan, pengambilan darah, dan tes air liur, setelah dia kembali dari luar negeri dan dikarantina selama 28 hari.

Mengingat pengalaman tidak menyenangkan dalam mengambil tes semacam itu, beberapa netizen bertanya apakah perlu menggunakan metode tersebut walau terbukti efektif.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Lu Hongzhou mencatat bahwa pengujian menggunakan usap anal lebih stabil dan akurat daripada usap hidung dan tenggorokan.

"Lebih mungkin mendapatkan sampel yang tidak dapat digunakan dan hasil yang salah dari metode usap hidung dan tenggorokan, kata Lu.

Usap anal tidak dapat dilakukan dalam pengujian massal, tetapi Lu mendukung perluasan pengujian usap anal ke semua kedatangan internasional dan kelompok berisiko tinggi di bawah pengamatan medis untuk menjamin keakuratan pengujian.



Simak Video "Tanggapan China Soal Permintaan Penyetopan Anal Swab Test"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)
Topik Hangat Anal Swab COVID-19