Selasa, 09 Feb 2021 11:00 WIB

Komentar WHO Soal Efektivitas Vaksin terhadap Varian Baru Corona Afrika Selatan

Firdaus Anwar - detikHealth
Kepala WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus WHO berikan komentar terkait efektivitas vaksin COVID-19 terhadap varian Corona baru dari Afrika Selatan. (Foto: (REUTERS/Denis Balibouse))
Jakarta -

Studi awal berbagai jenis vaksin COVID-19 menunjukkan penurunan efikasi terhadap varian baru virus Corona di Afrika Selatan (Afsel). Vaksin yang dikembangkan AstraZeneca-Oxford contohnya disebut-sebut hanya memiliki efikasi sampai 10 persen.

Hal ini membuat otoritas kesehatan di Afrika Selatan memutuskan menghentikan sementara program vaksinasi dengan vaksin COVID-19 AstraZeneca.

Sementara itu pihak AstraZeneca mengaku sedang berusaha memodifikasi vaksinnya secepat mungkin untuk varian tersebut. Dikutip dari DW, vaksin diharapkan siap dan dapat dikirim ke seluruh dunia pada musim gugur.

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, menanggapi masalah kemunculan varian-varian baru virus Corona terhadap vaksin ini. Ia mengakui perlu ada penyesuaian strategi, namun bukan berarti vaksinasi diperlambat atau malah dihentikan.

Menurut Tedros saat ini masyarakat justru harus divaksinasi secepatnya. Tujuannya demi mengurangi transmisi atau angka penularan sebelum varian yang baru bisa menyebar lebih luas.

"Semakin jelas bahwa produsen vaksin harus mengimbangi evolusi dari virus COVID-19. Mempertimbangkan varian terkini untuk vaksin masa depan, termasuk di dalamnya dosis booster," kata Tedros seperti dikutip dari situs resmi WHO, Selasa (9/2/2021).

"Perkembangan yang ada menekankan pentingnya meningkatkan kemampuan produksi dan distribusi vaksin COVID-19 secepat mungkin. Sehingga orang-orang bisa terlindungi sebelum terpapar varian baru," lanjutnya.

Menyesuaikan vaksin untuk menghadapi varian virus bukan merupakan hal yang baru. Tedros menyebut ini terjadi contohnya pada kasus influenza.

"Ini terjadi juga pada vaksin flu, setiap dua kali dalam setahun vaksin diperbarui untuk menyesuaikan varian yang dominan," kata Tedros.



Simak Video "Kecam Ketidakadilan, WHO Desak Negara Kaya Bantu Berbagi Vaksin"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/up)