Jumat, 16 Jul 2021 16:06 WIB

Oseltamivir-Azithromycin Tak Lagi Disarankan, Paket Isoman COVID-19 Berubah?

Vidya Pinandhita - detikHealth
Tingginya kasus Corona (COVID-19) di Indonesia membuat permintaan obat-obatan dan vitamin meningkat. Warga rela antre ke apotek demi membeli kebutuhan. Foto: Andhika Prasetia
Jakarta -

Rekomendasi terbaru para dokter tidak lagi memasukkan Oseltamivir dan Azithromycin untuk obat terapi utama COVID-19. Padahal, obat-obat tersebut ada dalam paket isolasi mandiri (isoman) COVID-19 dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI. Gimana tuh?

Perubahan rekomendasi obat untuk isoman tercantum dalam Revisi Protokol Tatalaksana COVID-19. Rekomendasi disusun oleh 5 perhimpunan profesi dokter spesialis, yakni:

  • Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI)
  • Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI)
  • Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI)
  • Perhimpunan Dokter Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (PERDATIN)
  • Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)

Dalam rekomendasi tersebut, Oseltamivir hanya diberikan pada pasien isoman yang dicurigai memiliki koinfeksi influenza. Sedangkan Azithromycin hanya diberikan jika ada kecurigaan koinfeksi mikroorganisme atipikal.

Sementara itu, dikutip dari laman resmi Kemenkes, Oseltamivir dan Azithromycin termasuk dalam paket B untuk pasien isoman COVID-19 bergejala ringan. Lengkapnya, paket tersebut berisi obat-obat sebagai berikut:

  • Multivitamin
  • Azithromycin 500mg
  • Oseltamivir 75mg
  • Parasetamol tab 500mg

Dokter spesialis paru dan staf pengajar Departemen Pulmonologi Fakultas Kedokteran Universitas Indoensia (FKUI), dr Rara Diah Handayani, SpP(K) menyebut, perubahan rekomendasi obat wajar terjadi lantaran menyesuaikan hasil evaluasi dan bukti klinis seiring penggunaan obat.

Namun lantaran informasi terkait penggunaan obat oleh pasien COVID-19 ini masih terus berkembang, ia menyarankan agar obat antivirus seperti oseltamivir hanya dikonsumsi jika pasien COVID-19 mengantongi anjuran dokter.

"Intinya akan lebih baik jika kita benar-benar berkonsultasi kepada ahli sebelum mendapatkan terapi," terangnya dalam diskusi daring, Jumat (16/7/2021).

"Memang kadang-kadang di berbagai negara itu variasi mana yang diambil. Beberapa negara di Eropa tidak menggunakan fapiviravir, tidak menggunakan oseltamivir, juga tidak menggunakan remdesivir. Tapi dia menggunakan beberapa antivirus yang lain. Jadi memang disesuaikan dengan keputusan masing-masing negara. Biasanya dilakukan dulu evaluasi," pungkasnya.



Simak Video "Pfizer Klaim Obat Covid-19 Buatannya Turunkan Rawat Inap-Kematian"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)