Kamis, 09 Sep 2021 05:34 WIB

Round Up

Kenapa Fenomena Gancet Identik dengan Azab Zina-Perselingkuhan?

Salwa Aisyah Sheilanabilla - detikHealth
Intimate moment of two lovers in shower, sexual desire and passion, relationship. ilustrasi seks Fenomena gancet dan zina (Foto: Getty Images/iStockphoto/Motortion)
Jakarta -

Fenomena pasangan gancet atau penis captivus hampir selalu dikaitkan dengan perilaku seks yang menyimpang. Kalau nggak zina, perselingkuhan. Apa hubungannya ya?

Belakangan ini ramai di media sosial tentang pasangan 'gancet'. Fenomena 'gancet' kerap dikaitkan dengan hal-hal mistis, serta azab atas perilaku seks yang tidak wajar seperti berhubungan di luar nikah hingga isu perselingkuhan. Lokasinya pun biasanya tak lazim, seperti semak-semak.

Sungguhpun demikian, bukti valid adanya fenomena pasangan gancet sangat minim di seluruh dunia. Hampir semua kasus yang tercatat bersumber dari kesaksian, nyaris tidak ada yang ditangani langsung oleh tenaga medis.

Lantas, apakah benar berhubungan seks di luar nikah dan berselingkuh bisa menyebabkan pasangan mengalami 'gancet'?

Fenomena 'gancet', dalam istilah medis disebut dengan penis captivus. Dokter Dinda Derdameisyah, SpOG, yang berpraktik di Rumah Sakit Medistra menjelaskan bahwa 'gancet' terjadi karena adanya kontraksi pada vagina, tanpa disadari oleh pihak wanita.

"Gancet vagina secara medis akibat dari kontraksi vagina yang involunter [gerakan dari tubuh yang tidak dapat dikendalikan oleh seseorang], tanpa disadari," ujar dr Dinda, saat dihubungi lewat aplikasi pesan instan, Rabu (08/09/2021).

Saat ditanya mengenai kaitannya dengan risiko tinggi mengalami gancet akibat hubungan seks di luar nikah, hal ini dibantah oleh dr Dinda. Ia menegaskan hal tersebut tidak ada kaitannya sama sekali.

"Nggak ada hubungannya, [fenomena gancet] erat kaitannya dengan vaginismus, yaitu kondisi di mana vagina berkontraksi atau menyempit tanpa bisa dikendalikan," ujar dr Dinda.

Lebih lanjut, dijelaskan bahwa pasangan yang berisiko tinggi mengalami gancet, yaitu jika wanita memiliki riwayat vaginismus.

"Yang berpotensi mengalami ini adalah perempuan dengan riwayat vaginismus dan dipaksa penetrasi," ungkap dr Dinda.

Solusi yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko mengalami 'gancet' saat berhubungan intim, yakni dengan melakukan konsultasi ke dokter. Sebab, menangani vaginismus membutuhkan multidisiplin ilmu

"Latih dan terapikan perempuan dengan vaginismus. Kenali gejala dan konsulkan ke dokter karena membutuhkan multidisiplin ilmu [untuk menangani vaginismus]," papar dr Dinda.

Dikutip dari Webmd, Rabu (08/09/2021), jika wanita mengalami gejala di bawah ini sebaiknya periksakan ke dokter untuk mendeteksi kemungkinan memiliki riwayat vaginismus

Gejalanya meliputi:

1. Dispareunia

Mengalami dispareunia atau hubungan seks yang menyakitkan. Rasa sakit hanya terjadi saat penetrasi dan biasanya rasa sakit mereda setelah selesai penetrasi, tetapi tidak selalu terjadi

2. Sensasi terbakar

Sejumlah wanita mengaku merasakan sensasi terbakar atau sensasi mengeras seperti penis yang menubruk ke dinding.

3. Tidak nyaman

Banyak wanita yang memiliki vaginismus juga merasa tidak nyaman saat memasukkan tampon atau menjalani pemeriksaan panggul.

4. Gejala lain

  • Tidak bisa melakukan hubungan seks penetrasi atau memasukkan tampon sama sekali
  • Takut merasakan sakit atau takut melakukan seks
  • Hilangnya hasrat seksual

Gejala-gejala tersebut terjadi secara tidak sengaja, artinya seorang wanita tidak dapat mengendalikannya tanpa pengobatan.



Simak Video "Vaginismus Bisa Jadi Pemicu 'Pasangan Gancet'"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)