Rabu, 01 Des 2021 19:15 WIB

Hari AIDS Sedunia

Hari AIDS Sedunia, Ini 3 Tahapan Infeksi HIV Sebelum Jadi AIDS

Akbar Malik - detikHealth
ilustrasi obat antiretroviral Hari AIDS Sedunia (Foto: ilustrasi/thinkstock)
Jakarta -

HIV-AIDS masih menjadi masalah bagi banyak orang. Pasalnya angka kematian yang diakibatkan dari HIV-AIDS cukup tinggi, tahun 2020 saja sebanyak 680 ribu warga dunia meninggal akibat HIV-AIDS.

Sindrom ganas AIDS bermula dari infeksi HIV (human immunodeficiency virus). Virus tersebut bisa ditularkan melalui cairan tubuh seperti darah, air mani, air pra-mani, air dubur, air vagina, dan air susu ibu.

Penularan HIV bisa ditekan dengan pengecekan rutin agar infeksi HIV bisa terdeteksi sedini mungkin. Khususnya bagi orang yang berhubungan seks aktif dan sering berganti pasangan, tes HIV secara berkala adalah hal yang perlu dilakukan.

Infeksi HIV terjadi dalam tiga tahap. Jika tidak ditangani dan diobati secara serius, infeksi ini akan terus berkembang dan akhirnya menghancurkan sistem kekebalan tubuh dalam bentuk AIDS.

Berikut adalah tiga tahap infeks HIV sebelum berkembang menjadi AIDS.

1. Gejala infeksi HIV akut

Banyak orang yang pada awalnya tidak sadar bahwa mereka telah terinfeksi HIV. Biasanya justru mereka akan mengalami gejala awal infeksi HIV dalam dua hingga empat minggu setelah tertular virus.

Ketika seseorang terkena HIV, secara alami tubuh akan melakukan sindrom retrovial atau infeksi primer yang artinya sistem kekebalan tubuh akan melawan. Gejalanya bisa seperti flu.

Gejala awal ini akan berlangsung sekitar satu sampai dua minggu hingga akhirnya tidak terasa lagi. Gejala awal HIV tersebut meliputi demam, nyeri otot, sakit tenggorokan, hingga pembengkakan kelenjar getah bening.

2. Gejala latensi klinis

Ketika sistem kekebalan tubuh kalah melawan virus HIV, gejala-gejala awal yang terasa seperti flu dan demam akan hilang. Meski begitu, tidak berarti keadaan tubuh akan membaik. Justru pengidapnya akan masuk ke tahap selanjutnya yang disebut dengan infeksi HIV kronis.

Gejala pada tahap ini biasanya tidak menimbulkan respons fisik apapun. Pada tahap ini, virus HIV akan membunuh sel CD4 yang dimiliki tubuh dan menghancurkan sistem kekebalan tubuh.

Apabila penderita tidak menerima pengobatan, sel CD4 akan terus turun dan sangat mungkin akan ada infeksi lain. Tapi, jika penderita menjalani ART (Antiretrovial therapy), tahap kronis ini masih mungkin berjalan namun virus lebih bisa dikendalikan.

3. Gejala AIDS

Ketika virus HIV terus masuk dan mengalahkan sistem kekebalan tubuh, maka ia akan berkembang menjadi AIDS. Gejala AIDS ini adalah tahap terakhir pengidap HIV-AIDS.

Gejala AIDS ini ditandai dengan jumlah sel CD4 yang turun di bawah 200 dan sistem kekebalan tubuh yang hancur. Pada tahap ini, penderita mungkin akan mengalami infeksi lain seperti kanker kulit atau pneumonia.

Di samping itu, gejala lain yang tampak adalah penurunan berat badan yang drastis dan pembengkakan kelenjar getah bening di leher atau selangkangan. Lebih dari itu, gejala lain yang timbul meliputi demam lebih dari 10 hari, bintik-bintik keunguan pada kulit, infeksi jamur di mulut, kehilangan memori, depresi, hingga gejala neurologis lainnya.

TERUSKAN MEMBACA, KLIK DI SINI



Simak Video "WHO Soroti Ketimpangan Perawatan HIV di Hari AIDS Sedunia"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)