Minggu, 02 Jan 2022 07:01 WIB

China Lockdown 13 Juta Orang Imbas Corona, Warga Teriak Kehabisan Makanan

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Dalam foto yang dirilis oleh Kantor Berita Xinhua China ini, seorang pekerja yang mengenakan pakaian pelindung mengumpulkan sampel usap tenggorokan di tempat pengujian COVID-19 di Xian di Provinsi Shaanxi, China barat laut, Selasa, 21 Desember 2021. China pada Rabu memerintahkan jutaan orang dikurung di lingkungan dan tempat kerja di kota utara Xian menyusul lonjakan kasus virus corona. (Li Yibo/Xinhua via AP) COVID-19 di China. (Foto: AP/Li Yibo)
Jakarta -

Kasus COVID-19 di Kota Xi'an, China, meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Atas kejadian ini, pemerintah China memutuskan mengunci kota yang berpenduduk 13 juta orang tersebut.

Warga tidak diperbolehkan keluar rumah untuk membeli makanan, kecuali dengan alasan tertentu. Para pegawai negeri pun dikerahkan untuk mendistribusikan bantuan dan makanan bagi warga di kota itu.

Namun banyak di antara warga yang mengaku sudah kehabisan bahan makanan pokok. Keluh kesah ini disampaikan melalui akun media sosial Weibo.

Diberitakan BBC, penerapan karantina wilayah di Kota Xi'an, sudah memasuki hari kesembilan. Penjagaan di kota itu terbilang ketat. Halte-halte bus di kota tersebut ditutup, penerbangan ke luar kota ditiadakan, dan jutaan tes COVID-19 diberlakukan di Provinsi Shaanxi.

Awalnya, pemerintah membolehkan satu orang per satu rumah keluar setiap dua hari sekali untuk membeli bahan makanan pokok. Tapi pengetatan diberlakukan sehingga warga benar-benar tidak boleh keluar rumah kecuali menjalani tes COVID-19.

Sejak saat itu, banyak penduduk berkeluh kesah serta meminta bantuan makanan di platform Weibo. Mereka mengklaim belum menerima paket bantuan gratis dari pemerintah.

"Saya dengar distrik lain menerima bantuan secara bertahap, tapi saya tidak menerima apapun. Kompleks kami melarang warga ke luar rumah. Saya memesan sembako secara daring empat hari lalu, tapi tidak ada tanda-tanda paket itu datang. Saya tidak mendapat sayur apapun selama berhari-hari," sebut seorang pengguna media sosial Weibo.

Sebuah video yang dibuat pekan ini dan telah beredar di dunia maya memperlihatkan penduduk di salah satu wilayah permukiman Kota Xi'an berdebat dengan polisi soal kekurangan makanan.



Surat kabar lokal Global Times milik pemerintah melaporkan bahwa di beberapa tempat makanan sudah diantarkan ke gerbang kompleks, namun jumlah relawan pengantar paket sembako ke depan pintu rumah warga kurang banyak.

Pada Rabu (29/12), pemerintah kota mengaku bahwa "kurangnya staf, kesulitan logistik serta distribusi" menimbulkan masalah pengantaran sembako ke warga.

Selanjutnya
Halaman
1 2