Jumat, 18 Mar 2022 16:32 WIB

'Crazy Rich' Pamer Harga Bikin Dongkol? Sabar, Nyinyir Juga Tak Lebih Sehat

Vidya Pinandhita - detikHealth
Mature business woman in coat near her jet in airport Penjelasan psikolog tentang geger 'Crazy Rich' di media sosial. Foto: Getty Images/iStockphoto/Yaroslav Astakhov
Topik Hangat Tren Pamer Harta
Jakarta -

Media sosial dibuat geger oleh istilah 'Crazy Rich palsu' gegara kemunculan sederet kasus penipuan yang melibatkan sosok-sosok yang tampak tajir di media sosial. Melihat gaya hidup serba glamor yang selalu dipamerkan, banyak orang merasa dongkol setelah mengetahui hartanya tak selalu didapat dari cara yang wajar.

Menurut psikolog klinis dan Co-Founder Ohana Space, Veronica Adesla, yang membuat masyarakat banyak jengkel sebenarnya bukan kekayaan yang dipamerkan oleh sejumlah oknum, melainkan sikap pamer dan menyombongkan diri.

Dalam kasus yang kini terkuak di media sosial, oknum-oknum 'Crazy Rich Palsu' tersebut kerap memamerkan gaya hidup mewah yang rupanya hasil penipuan. Sementara nilai yang ada di masyarakat mengedepankan sikap rendah hati.

"Sebenarnya kalau membaca dari berita-berita yang ada, yang menjadi permasalahan itu adalah perilaku pamernya. Perilaku pamer harta, baik itu crazy rich benaran atau orang-orang yang ingin dinilai, ingin menampilkan diri sebagai crazy rich tetapi mungkin bukan," jelasnya saat ditemui detikcom di Ohana Space, Jakarta Barat, Rabu (16/3/2022).

"Dengan ada norma sosial seperti ini, of course reaksi di masyarakat adalah nggak suka, negatif, terhadap perilaku yang pamer. Itu yang sebetulnya masyarakat nggak suka. Bukan crazy rich-nya. Orang mah kalau sudah tajir melintir atau kaya tujuh turunan, ya sudah itu jalan hidupnya dan mungkin privilege yang dia dapat, ya nggak apa-apa," imbuhnya.

Cara mengatasi rasa jengkel

Di linimasa media sosial, tak sedikit warganet memberikan respons nyinyir, marah, hingga sentimen terhadap konten pamer para Crazy Rich, khususnya yang palsu dan kini terkuak sebagai pelaku aksi penipuan. Untuk warganet yang mengalami resah berkepanjangan, Veronica menyarankan untuk mengurangi paparan media sosial.

"Kalau paparan di media sosial membuat diri kita resah, nggak tentram, membuat kita menjadi terganggu secara emosi, tidak usah dikonsumsi paparannya. Sudah tahu bikin resah dan hati tidak tentram, tapi tetap saja ditontonin sambil mengumpat biasanya," pungkasnya.



Simak Video "Psikolog Bicara Soal Istilah 'Crazy Rich Palsu'"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)
Topik Hangat Tren Pamer Harta