ADVERTISEMENT

Jumat, 12 Agu 2022 19:11 WIB

Pakar Sorot Bahaya BPA Air Minum Kemasan, Bisa Picu Gangguan Mental Anak

Vidya Pinandhita - detikHealth
Ilustrasi kandungan BPA dalam botol minum plastik. Foto: Shutterstock
Jakarta -

Sejumlah pakar menyorot bahaya Bisphenol A (BPA) pada galon guna ulang, atau kemasan plastik berbahan polycarbonat dengan kode plastik nomor 7. Pasalnya, BPA diyakini dapat memicu risiko kanker, kesehatan otak, autisme, masalah prostat, hingga perubahan perilaku pada anak.

Ahli biomedik farmasi dan farmakologi sekaligus Dekan Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Prof Junaidi Khotib menyebut, konsentrasi BPA dalam darah dan urin berkaitan erat dengan gangguan pada sistem hormon, saraf, hingga mental anak.

"Dari kajian yang dilakukan terjadi pelepasan atau migrasi partikel BPA ke makanan atau minuman yang bersinggungan langsung dengan kemasan primer sehingga partikel BPA dapat masuk ke dalam tubuh melalui makanan atau minuman tersebut," paparnya dalam keterangan tertulis, Jumat (12/8/2022).

"Konsentrasi BPA dalam darah dan urine sangat erat dengan berbagai penyakit yang berkaitan dengan gangguan endokrin, yaitu gangguan pada hormonal sistem, perkembangan saraf dan mental pada anak-anak," sambung Prof Junaidi.

Temuan efek BPA pada anak-anak juga disorot oleh Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait.

"BPA bagi orang dewasa saja dapat memicu kanker. Apalagi bagi anak-anak atau bayi, balita dan janin. Bayi, balita dan janin itu belum mempunyai sistem imun," bebernya.

"BPA lebih berbahaya dari yang diperkirakan sebelumnya. Berdasarkan pemaparan para pakar lain BPA dapat mengkontaminasi air susu ibu bahkan saat bayi masih jadi embrio," pungkas Arist.

Hal senada disampaikan oleh Ketua Bidang Kajian Penanggulangan Penyakit Tidak Menular Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) dr Agustina Puspitasari, SpOk, SubSp.BioKO(K). Menurutnya, migrasi partikel BPA ke makanan atau minuman yang bersinggungan langsung dengan kemasan primer dapat mempengaruhi fisiologi yang dikendalikan oleh endokrin, kelenjar prostat dan perkembangan otak pada janin, bayi dan anak-anak, serta perubahan perilaku anak.

Selanjutnya
Halaman
1 2

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT