ADVERTISEMENT

Sabtu, 20 Agu 2022 12:03 WIB

Daftar Negara yang Dihantui Resesi Seks Seperti China

Alethea Pricila - detikHealth
BEIJING, CHINA -MAY 30: Office workers wait in line to show their health codes and proof of 48 hour negative nucleic acid test, outside an office building after some people returned to work, in the Central Business District on May 30, 2022 in Beijing, China. China is trying to contain a spike in coronavirus cases in Beijing after hundreds of people tested positive for the virus in recent weeks. Local authorities have initiated mass testing, mandated proof of a negative PCR test within 48 hours to enter many public spaces, closed schools and  banned gatherings and inside dining in all restaurants, and locked down many neighborhoods in an effort to maintain the countrys zero COVID strategy. Due to improved control and lower numbers of new cases and reduced spread, municipal officials from Sunday permitted the easing of some restrictions to allow for limited return to office, resumption of public transport, and the re-opening of many shopping malls, parks, and scenic spots with limited capacity in some districts. (Photo by Kevin Frayer/Getty Images) Foto: Getty Images/Kevin Frayer
Jakarta -

China saat ini sedang mengalami 'resesi seks', istilah ini timbul karena turunnya keinginan pasangan untuk menikah, berhubungan seksual, atau memiliki anak. Akibatnya, negara ini mengalami angka kelahiran yang rendah, bahkan tahun ini diprediksi akan mencetak rekor angka kelahiran terendah, di bawah 10 juta.

"Sudah 11,5 persen lebih rendah dari tahun lalu," ucap ahli demografi China, dikutip dari Reuters (17/8/2022).

Salah satu penyebab terjadi resesi seks diyakini karena adanya kultur kerja 9-9-6 artinya warga bekerja dari 9 pagi hingga 9 malam. Lalu apakah hanya China yang mengalami resesi seks? Ternyata terdapat 3 negara lain yang terancam akan mengalami 'resesi seks'.

1. Jepang

Pada 2021, negara ini mencatat rekor terendah angka kelahiran dengan 811.604 kelahiran pada tahun lalu dikutip dari Reuters. Selain itu, angka kesuburan keseluruhan menurun menjadi 1,3 selama enam tahun berturut-turut. Salah satu penyebabnya adalah ketidakstabilan keuangan nasional.

Melalui Survei Kesuburan Nasional Jepang 2019 menunjukkan satu dari 10 pria di Jepang dengan usia sekitar 30 tahun mengaku belum pernah berhubungan seksual. Angka ini relatif tinggi dibanding negara lainnya.

2. Singapura

Banyaknya warga yang enggan untuk menikah menyebabkan angka perkawinan menurun sehingga rendahnya angka kelahiran. Di negara ini angka kelahiran bayi 1,12 pada 2021 lalu, tentunya angka ini lebih rendah dibandingkan angka rata-rata global yaitu 2,3.

Penyebab terjadinya 'resesi seks' di Singapura karena pemerintah mengizinkan wanita lajang untuk melakukan pembekuan sel telur. Awalnya, izin ini hanya diberikan kepada wanita dengan kondisi medis seperti tengah menjalani kemoterapi.

"Kami menyadari bahwa beberapa wanita ingin mempertahankan kesuburannya karena keadaan pribadi mereka. Misal karena tidak dapat menemukan pasangan saat mereka masih muda, tetapi ingin memiliki kesempatan untuk hamil jika menikah nanti," kata administrasi Perdana Menteri Lee Hsien Loong dalam pernyataan, dikutip dari South China Morning Post.

3. Amerika Serikat

Isu ini sudah mulai muncul sejak 2019 lalu, terlebih sejak COVID-19, banyak pasangan yang menunda untuk menikah atau memiliki anak. Berdasarkan penelitian dari Institute for Family Studies (IFS), jumlah orang dewasa muda yang enggan untuk berhubungan seks pada 2021 meningkat lebih dari dua kali lipat dibanding tahun 2008 yang awalnya 8 persen kini menjadi 21 persen.

Penelitian tersebut juga menunjukkan perempuan dengan rentang usia 18-35 tahun lebih banyak memilih tidak berhubungan seks dalam satu tahun terakhir. Peningkatan ini juga disebabkan pernikahan yang tertunda karena imbas dari COVID-19.



Simak Video "Sistem Regulasi Vaksin China Lolos Penilaian WHO"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT