Senin, 11 Mar 2019 09:51 WIB

Mulai Diet dengan Tepat, Kenali 4 Bahaya Diet Yoyo

Aisyah Kamaliah - detikHealth
Berhasil diet lalu naik lagi berat badannya, kalau terus begini enggak baik loh buat kesehatan. Foto: iStock Berhasil diet lalu naik lagi berat badannya, kalau terus begini enggak baik loh buat kesehatan. Foto: iStock
Jakarta - Kamu mungkin pernah mengalami 'diet yoyo' di mana kamu berhasil menurunkan berat badan, eh enggak lama naik lagi dan berusaha untuk diet lagi. Siklus ini bila terus berlanjut enggak baik loh bagi kesehatan.

Ada banyak alasan mengapa diet yoyo atau dikenal juga 'weight cycling' ini tidak baik untukmu. Dikutip dari Health Line, berikut ini adalah beberapa di antaranya.


1. Diet yoyo bikin nafsu makan meningkat

Selama diet, lemak yang terbuang mengarah pada peningkatan hormon leptin yang mana normalnya membantu kamu merasa kenyang. Ketika dalam kondisi normal, tubuhmu melepaskan leptin ke aliran darah sehingga tubuh menyampaikan sinyal kalau energi di tubuh sudah cukup alias enggak perlu makan lagi.

Selain itu, hilangnya massa otot selama diet menyebabkan tubuh menghemat energi. Ketika kebanyakan orang menggunakan diet jangka pendek untuk menurunkan berat badan, mereka akan mendapatkan kembali 30-65% dari berat badan yang hilang dalam satu tahun.

Selain itu, satu dari tiga pelaku diet berakhir lebih berat daripada sebelum mereka berdiet. Ouch.

2. Persentase lemak tubuh yang lebih tinggi

Dalam beberapa penelitian, diet yoyo telah menyebabkan peningkatan persentase lemak tubuh.

Selama fase penambahan berat badan dari diet yoyo, lemak didapat kembali dengan lebih mudah daripada massa otot. Ini dapat menyebabkan persentase lemak tubuh meningkat selama beberapa siklus yoyo.



3. Hati-hati, massa otot berkurang

Selama diet penurunan berat badan, tubuh kehilangan massa otot dan juga lemak. Karena lemak didapatkan lebih mudah daripada otot setelah penurunan berat badan, ini dapat menyebabkan lebih banyak kehilangan otot dari waktu ke waktu.

Kehilangan otot selama diet menyebabkan penurunan kekuatan fisik. Efek ini dapat dikurangi dengan olahraga, termasuk latihan kekuatan. Berolahraga memberi sinyal tubuh untuk menumbuhkan otot, bahkan ketika seluruh tubuh sedang melangsingkan tubuh.

Selama penurunan berat badan, kebutuhan protein makanan tubuh juga meningkat. Makan sumber protein berkualitas cukup dapat membantu mengurangi kehilangan otot. Satu studi menunjukkan bahwa ketika 114 orang dewasa mengonsumsi suplemen protein saat mereka kehilangan berat badan, mereka kehilangan lebih sedikit massa otot.

4. Berat badan yang bertambah mengarah pada perlemakan hati

Perlemakan hati adalah ketika tubuh menyimpan kelebihan lemak di dalam sel-sel hati. Obesitas adalah faktor risiko untuk mengembangkan perlemakan hati atau fatty liver.

Kondisi ini dikaitkan dengan perubahan cara hati memetabolisme lemak dan gula, meningkatkan risiko diabetes tipe 2. Kadang-kadang juga dapat menyebabkan gagal hati kronis, juga dikenal sebagai sirosis.

Sebuah studi pada tikus menunjukkan bahwa beberapa siklus kenaikan dan penurunan berat badan menyebabkan perlemakan hati. Studi tikus lain menunjukkan bahwa hati berlemak menyebabkan kerusakan hati pada tikus yang mengalami 'weight cycling'.


(ask/up)
News Feed