Kolom Gizi

Diet Rendah Gula Bisa Atasi Jerawat? Ini Faktanya

Mhd. Aldrian, S.Gz - detikHealth
Senin, 09 Feb 2026 06:04 WIB
Diet rendah gula bisa atasi jerawat? Foto: Getty Images/Tunyada Kongkapan
Jakarta -

Beberapa waktu terakhir, diet tanpa gula menjadi salah satu topik yang paling sering berseliweran di media sosial. Banyak yang membagikan pengalaman kulit wajah yang terasa lebih bersih setelah menghentikan konsumsi gula. Jerawat yang sebelumnya sering muncul perlahan berkurang, bekas menghilang, dan tekstur kulit terasa lebih stabil. Tren seperti ini cepat menyebar dan membentuk keyakinan baru bahwa gula adalah biang utama masalah kulit.

Tren seperti ini sebenarnya positif. Kesadaran masyarakat terhadap dampak konsumsi gula berlebih memang patut diapresiasi di tengah tingginya konsumsi makanan dan minuman manis di Indonesia.

Masalah mulai muncul ketika anggapan bahwa diet tanpa gula berarti harus memutus hubungan total dengan nasi, roti, mie, dan semua sumber karbohidrat lainnya. Pemahaman seperti ini justru berpotensi menimbulkan masalah baru yang tidak kalah serius.

Batasan Konsumsi Gula

Tubuh manusia sebenarnya tetap membutuhkan gula dalam jumlah tertentu sebagai sumber energi. Yang menjadi persoalan adalah gula tambahan yang dikonsumsi secara berlebihan dan terus menerus. World Health Organization (WHO) menganjurkan agar asupan gula tambahan dibatasi kurang dari 10% dari total kebutuhan energi harian, bahkan idealnya ditekan hingga 5% untuk manfaat kesehatan yang lebih optimal. Sejalan dengan itu, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menetapkan batas konsumsi gula tambahan maksimal 50 gram per hari, atau setara dengan sekitar 4 sendok makan.

Angka ini sering kali terlampaui tanpa disadari. Gula tambahan tidak hanya berasal dari gula pasir yang ditambahkan ke minuman, tetapi juga tersembunyi dalam kopi susu, teh kemasan, minuman bersoda, kue, biskuit, hingga berbagai saus dan makanan olahan. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nutrients tahun 2018 menunjukkan bahwa konsumsi gula tambahan yang tinggi berkaitan dengan peningkatan peradangan sistemik dan gangguan metabolik. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada berat badan dan kesehatan metabolik, tetapi juga mempengaruhi keseimbangan hormon serta respons peradangan yang berperan penting dalam kesehatan kulit.



Simak Video "Video: Punya Genetik 'High Risk Obesity'? Kenali Cara Menekan Risikonya"


(mal/up)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork