Kolom Gizi

Inikah yang Bikin Tempe Mendunia?

Fitri Isnia Nuryani, S.Pt - detikHealth
Jumat, 01 Mei 2026 10:02 WIB
Tempe. Foto: Getty Images/iStockphoto/Sudadi Sastrowiredjo
Jakarta -

Tempe bukan sekadar lauk sehari-hari di meja makan masyarakat Indonesia. Di berbagai belahan dunia, makanan berbahan dasar kedelai ini semakin dilirik sebagai simbol pangan berkelanjutan, kaya gizi, dan sarat nilai budaya.

Dari dapur rumahan hingga restoran modern di kota-kota global, tempe perlahan menembus batas geografis, membawa cerita tentang tradisi, inovasi, dan masa depan pangan.

Dari Makanan "Sederhana" Jadi Produk Eksotis di Mata Dunia

Selama bertahun-tahun, tempe kerap dipandang sebagai makanan "biasa" di Indonesia-murah, mudah ditemukan, bahkan tak jarang dianggap sebagai lauk kelas dua. Namun, perspektif ini justru berbanding terbalik dengan cara dunia melihat tempe saat ini.

Pegiat fermentasi pangan, Wida Winarno, mengungkapkan bahwa perubahan persepsi ini tidak terjadi secara instan. Ia menceritakan bagaimana di awal gerakan promosi tempe, masih banyak masyarakat yang belum menyadari nilai dari makanan fermentasi khas Indonesia tersebut.

"Di kalangan masyarakat itu tempe seperti sesuatu yang direndahkan... orang-orang menganggap ini sesuatu yang murah, kelas dua. Tapi setelah 10 tahun, kita melihat di luar negeri tempe sangat diapresiasi. Kalau di Indonesia harganya murah, di sana mahal, jadi seperti produk eksotis," jelasnya, ditemui di Jakarta Selatan baru-baru ini.

Perubahan persepsi ini juga tercermin dalam data global. Dikutip dari Grand View Research, nilai pasar tempe dunia mencapai sekitar US$ 5,1 miliar pada 2023 dan diproyeksikan tumbuh menjadi US $7,6 miliar pada 2030, dengan laju pertumbuhan tahunan sekitar 5-6 persen.

Temuan lain menunjukkan tren serupa. Dikutip dari laporan yang dipublikasikan melalui GlobeNewswire, nilai pasar tempe global berada di kisaran US$ 4,7 miliar pada 2024 dan diperkirakan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan.

Pertumbuhan ini didorong oleh meningkatnya minat terhadap pola makan berbasis nabati (plant-based diet), serta kesadaran global akan pentingnya pangan yang lebih sehat dan berkelanjutan, sebagaimana dilaporkan oleh Global Market Insights.

Tak heran jika kini tempe telah diproduksi di berbagai negara seperti Amerika Serikat, Belanda, hingga Jepang. Di pasar internasional, tempe tidak lagi sekadar makanan tradisional, tetapi telah naik kelas menjadi produk protein nabati premium dengan nilai jual yang jauh lebih tinggi dibandingkan di Indonesia.

Fenomena ini menunjukkan adanya "ironi nilai": ketika tempe dianggap biasa di negeri asalnya, justru di pasar global ia diposisikan sebagai produk unik dan bernilai tinggi. Dari sekadar lauk rumahan, tempe kini menjelma menjadi simbol pangan lokal yang memiliki daya tarik global.



Simak Video "Video: Takjil Kurma Ditambah Butter, Berapa Kalorinya?"


(fti/up)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork