Belakangan dessert dengan tekstur chewy dan creamy makin ramai di media sosial. Mulai dari mochi, boba, hingga yang terbaru Dubai chewy cookie, makanan dengan sensasi kenyal, lembut, atau lumer di mulut sering dianggap terasa lebih memuaskan saat dimakan.
Bukan cuma karena rasanya manis, tekstur makanan ternyata juga berperan dalam pengalaman makan seseorang. Lalu, kenapa tekstur chewy dan creamy bisa terasa lebih "nagih" dibanding makanan dengan tekstur biasa?
Kenapa Tekstur Chewy Terasa 'Satisfying' Saat Digigit?
Dalam dunia ilmu pangan, tekstur makanan diketahui berperan besar dalam pengalaman makan seseorang. Tekstur chewy atau kenyal membuat makanan perlu dikunyah lebih lama, sehingga mulut dan otak menerima lebih banyak stimulasi sensorik selama proses makan.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Food Quality and Preference menyebut tekstur menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi kenikmatan dan penerimaan seseorang terhadap makanan. Tidak hanya rasa, otak juga memproses elastisitas, kelembutan, hingga sensasi "tarik" dari makanan saat dikunyah.
Selain itu, makanan yang lebih kenyal biasanya membuat orang makan lebih lambat dan mengunyah lebih banyak sebelum menelan. Penelitian dalam jurnal Physiology & Behavior menemukan proses mengunyah lebih lama berkaitan dengan peningkatan rasa kenyang dan kepuasan makan.
Bukan cuma teksturnya, suara dan sensasi gigitan saat mengunyah juga ikut memengaruhi kenikmatan makan. Studi mengenai sensory eating dalam jurnal Food Quality and Preference menunjukkan otak turut memproses suara kunyahan dan perubahan tekstur selama makanan dikunyah di mulut.
Karena itu, makanan seperti mochi, boba, atau chewy cookie sering terasa lebih "satisfying" bagi sebagian orang. Sensasi kenyal yang bertahan lebih lama di mulut membuat pengalaman makan terasa lebih menarik dibanding makanan dengan tekstur yang cepat hancur saat digigit.
Simak Video "Video: Takjil Kurma Ditambah Butter, Berapa Kalorinya?"
(fti/up)