Cold-pressed juice belakangan semakin populer dan kerap dianggap sebagai pilihan yang lebih sehat dibanding jus yang dibuat dengan blender atau juicer biasa. Tak sedikit pula kafe dan gerai minuman yang menjualnya dengan harga lebih tinggi karena dinilai mampu menjaga kandungan nutrisi buah dan sayur lebih baik.
Anggapan tersebut bukan tanpa alasan. Metode cold-pressed bekerja dengan cara menekan bahan tanpa menghasilkan panas berlebih, berbeda dengan alat berkecepatan tinggi yang dapat meningkatkan paparan panas dan oksigen selama proses pengolahan. Kondisi ini diyakini membantu mempertahankan sebagian vitamin dan senyawa antioksidan yang sensitif terhadap panas.
Namun, apakah perbedaannya benar-benar signifikan? Dan benarkah cold-pressed juice selalu lebih baik daripada jus yang dibuat dengan blender?
Efek Metode Cold-Pressed Juice pada Nutrisinya
Cold-pressed juice kerap dianggap lebih sehat dibanding jus yang dibuat menggunakan blender atau juicer sentrifugal. Alasannya, metode ini mengekstrak sari buah dan sayur dengan cara menekan bahan secara perlahan sehingga menghasilkan panas yang lebih rendah selama proses pengolahan.
Sejumlah penelitian memang menemukan metode tersebut berpotensi mempertahankan lebih banyak senyawa bioaktif. Dalam studi yang membandingkan beberapa metode pengolahan jus anggur, misalnya, jus yang dibuat menggunakan low-speed masticating juicer atau alat yang bekerja dengan prinsip serupa cold-pressed memiliki kandungan polifenol sekitar 327 mg per 100 mL.
Angka ini lebih tinggi dibanding jus yang dibuat dengan blender yang mengandung sekitar 250 mg per 100 mL dan juicer sentrifugal sekitar 90 mg per 100 mL. Kandungan vitamin C juga tercatat paling tinggi pada metode low-speed, yakni sekitar 0,78 mg per 100 mL, dibanding sekitar 0,40 mg per 100 mL pada blender dan 0,17 mg per 100 mL pada juicer sentrifugal.
(fti/up)