detikcom Leaders Forum

Jebakan Batman Hidden Sugar di Pangan yang Bisa Berujung Diabetes

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Kamis, 18 Jun 2026 09:09 WIB
Jakarta - Banyak orang merasa sudah membatasi konsumsi gula, entah karena terbiasa memilih produk 'less sugar' atau no sugar. Namun tanpa disadari, asupan gula harian justru bisa datang dari makanan dan minuman kemasan yang dikonsumsi setiap hari.

Dikenal dengan 'hidden sugar' atau gula tersembunyi, kandungannya kerap tidak disadari karena muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari sukrosa, fruktosa, sirup jagung, hingga pemanis lain yang sebetulnya tercantum pada label kemasan.

Kepala BPOM RI Taruna Ikrar mengatakan pemerintah sudah mewajibkan pencantuman informasi kandungan gizi pada produk pangan kemasan yang mengantongi izin edar. Sayangnya, masyarakat belum terbiasa membaca label tersebut.

"Sebetulnya yang berhubungan dengan kandungan nutrisi sudah diputuskan sejak 2019. Sekarang makanan kemasan sudah ada keterangannya, hanya masyarakat kita belum terbiasa membaca kandungan itu," kata Taruna dalam sesi bincang detikcom leaders forum, Jebakan Hidden Sugar: Ada di Mana-mana, Diam-diam Bikin Gemuk, Jumat (5/6/2026),

Hal ini yang juga diamini Ketua Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), Mufti Mubarok. Menurutnya, masyarakat kerap sulit membedakan istilah-istilah yang digunakan pada kemasan pangan.

Berbagai klaim seperti 'less sugar', 'low sugar' yang mengaburkan kandungan gula sebenarnya, mengecoh konsumen untuk menganggap produk tersebut benar-benar rendah gula.

"Dari kacamata konsumen, istilah-istilah itu cukup menyulitkan. Bagi kami masih seperti jebakan Batman. Lebih mudah kalau menggunakan warna-warna yang jelas daripada istilah yang membingungkan," katanya, dalam kesempatan yang sama.

Ia mencontohkan konsumen sering kali terkecoh dengan berbagai klaim pemasaran yang terdengar sehat, padahal kandungan gula, garam, atau lemaknya masih tinggi.

Karenanya, pemerintah tengah merampungkan kebijakan Nutri Level yang saat ini sudah berlaku di pangan siap saji serta menyusul untuk pangan olahan. Label yang menunjukkan tingkatan tinggi gula, garam, lemak, berdasarkan warna dinilai lebih mudah untuk mengkomunikasikan edukasi gizi di masyarakat umum.

"Kalau hijau tentu lebih sehat. Kalau sudah kuning perlu hati-hati. Jadi masyarakat tidak perlu membaca informasi yang terlalu rumit, cukup melihat label sederhananya," ujar Taruna.

Konsumsi Gula Warga RI Masih Tinggi

Health Communicator Kalbe Nutritionals, dr Laurencia Ardi, MGizi, AIFO-K, mengatakan anjuran konsumsi gula harian untuk orang dewasa pada dasarnya sama, yakni sekitar 50 gram atau setara 4 hingga 5 sendok makan per hari.

Masalahnya, banyak orang tidak menyadari jumlah gula yang masuk dari makanan dan minuman kemasan.

"Yang jadi masalah adalah masyarakat Indonesia masih rendah kesadarannya untuk melihat nutrition facts. Padahal di situ sudah tercantum apa saja yang masuk ke tubuh kita," ujarnya.

Mengutip Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, dr Laurencia menekankan sekitar 60 persen masyarakat Indonesia masih mengonsumsi makanan atau minuman manis setiap hari.

Hal yang kerap luput saat membaca label adalah tidak memerhatikan rincian jenis gula di suatu produk. Alih-alih hanya memperhatikan bagian gula total, menurutnya penting untuk dilihat pula jenis atau komposisi bahan dalam produk kemasan.

"Misalnya ada sukrosa. Sukrosa itu gula pasir atau gula tambahan yang perlu kita perhatikan. Yang perlu diwaspadai terkait batas 5 sendok makan tadi, adalah sukrosanya," jelas dia.

Menurut Laurencia, gula total pada akhirnya merupakan bagian dari karbohidrat yang akan diubah tubuh menjadi energi. Bila konsumsinya berlebihan, jelas bisa meningkatkan risiko lonjakan gula darah hingga berujung ke diabetes.

Kenapa Bisa Berujung Diabetes?

Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, menekankan selain faktor asupan gula berlebih, minimnya aktivitas fisik juga menjadi alasan kasus diabetes terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Gula dalam hal ini, bukan sepenuhnya dilarang dan tidak dibutuhkan oleh tubuh, tetapi yang perlu ditekankan adalah keseimbangan asupan dengan aktivitas.

"Yang penting sebenarnya keseimbangan antara asupan dan aktivitas. Generasi sekarang aktivitas fisiknya makin kurang karena semuanya serba mudah," kata Nadia.

Menurutnya, ketika aktivitas fisik berkurang tetapi asupan gula tetap tinggi, risiko obesitas dan diabetes menjadi lebih besar.

"Kalau aktivitas fisik kita kurang, asupan harus dibatasi. Dengan adanya informasi di label pangan, sebenarnya masyarakat bisa mengatur dan membatasi asupan mereka sendiri," ujarnya.

Sementara itu, selain memperhatikan kandungan gula, masyarakat juga bisa melihat indeks glikemik makanan.

dr Laurencia juga menjelaskan makanan dengan indeks glikemik rendah hingga sedang cenderung meningkatkan gula darah lebih lambat dibanding makanan dengan indeks glikemik tinggi.

"Kalau makanan sangat manis, mudah dikunyah, dan cepat dicerna, biasanya indeks glikemiknya lebih tinggi. Sementara makanan yang perlu dikunyah lebih lama umumnya lebih rendah," katanya.

Ia mengingatkan bahwa bukan hanya jenis makanan yang penting diperhatikan, tetapi juga jumlah konsumsinya.

"Semua yang berlebihan tidak baik. Jadi indeks glikemik dijaga, jumlah konsumsinya juga harus dijaga," pungkasnya.




(naf/up)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork