Anemia Bukan Cuma soal Kesehatan, Ekonomi dan Performa Kerja Juga Terdampak

Anemia Bukan Cuma soal Kesehatan, Ekonomi dan Performa Kerja Juga Terdampak

detikHealth
Sabtu, 11 Jul 2026 06:06 WIB
Mhd. Aldrian, S.Gz
Ditulis oleh:
Mhd. Aldrian, S.Gz
Lulusan sarjana ilmu gizi Universitas Andalas, memiliki minat dalam hal keamanan dan kesehatan pangan. Saat ini menjadi penulis lepas untuk detikHealth.
Medical & Scientific Affairs Danone Indonesia, Dr dr Ray Wagiu Basrowi, MKK, PhD
Medical & Scientific Affairs Danone Indonesia, Dr dr Ray Wagiu Basrowi, MKK, PhD (Foto: Mhd. Aldrian, S.Gz/detikHealth)
Klaten -

Anemia defisiensi besi selama ini lebih sering dipandang sebagai masalah kesehatan. Padahal, dampaknya tidak berhenti pada tubuh yang mudah lelah atau menurunnya kadar hemoglobin. Kondisi ini juga dapat memengaruhi prestasi belajar, kualitas sumber daya manusia (SDM), hingga pertumbuhan ekonomi suatu negara.

Medical & Scientific Affairs Danone Indonesia, Dr dr Ray Wagiu Basrowi, MKK, PhD, mengatakan anemia defisiensi besi telah menjadi tantangan kesehatan di Indonesia sejak sebelum kemerdekaan. Setelah lebih dari 80 tahun, masalah tersebut masih ditemukan pada sekitar satu dari empat anak balita serta satu dari empat ibu hamil dan ibu menyusui.

"Yang ditakuti dari anemia defisiensi besi pada anak bukan hanya masalah klinis atau masalah kesehatan," kata dr Ray dalam talkshow di Pabrik Danone Spesialized Nutrition Prambanan, Jawa Tengah, Rabu (8/7/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dampaknya Bisa Terasa Hingga Dunia Pendidikan dan Dunia Kerja

dr Ray menjelaskan bahwa kekurangan zat besi pada masa awal kehidupan tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga perkembangan otak anak. Berbagai lembaga internasional, seperti WHO dan UNICEF, telah menunjukkan bahwa anak dengan anemia defisiensi besi berisiko mengalami penurunan prestasi akademik dibandingkan anak dengan status zat besi yang baik.

Hal tersebut juga terlihat dalam penelitian yang dilakukan bersama sejumlah peneliti di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan anak sekolah dasar yang mengalami anemia defisiensi besi memiliki working memory score yang lebih rendah. Working memory merupakan kemampuan otak untuk menyimpan dan mengolah informasi dalam waktu singkat, yang berperan penting dalam proses belajar, memahami pelajaran, memecahkan masalah, hingga mengambil keputusan.

ADVERTISEMENT

"Kalau working memory anak terganggu, proses belajarnya juga ikut terganggu. Dalam jangka panjang, kondisi ini akan memengaruhi kualitas sumber daya manusia dan produktivitas ketika mereka memasuki usia kerja," ujar dr Ray.

Mengapa Anemia Bisa Memengaruhi Ekonomi Negara?

Menurut dr Ray, tingginya angka anemia defisiensi besi bukan hanya menjadi persoalan individu, tetapi juga persoalan pembangunan bangsa.

"Anemia defisiensi besi adalah juga masalah ekonomi. Kalau suatu negara masih tinggi angka anemia defisiensi besinya, maka ancaman terhadap kemajuan ekonomi menjadi lebih besar," ujarnya.

Hal ini berkaitan dengan kualitas sumber daya manusia. Ketika banyak anak mengalami gangguan perkembangan akibat kekurangan zat besi, kemampuan belajar, produktivitas, dan kualitas tenaga kerja pada masa depan ikut terdampak. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat menurunkan kualitas human capital yang menjadi salah satu faktor penting dalam pertumbuhan ekonomi suatu negara.

Tiga Pilar untuk Mengatasi Anemia Defisiensi Besi

Pencegahan anemia defisiensi besi tidak dapat menunggu hingga anak menunjukkan gejala. Risiko kekurangan zat besi sebenarnya sudah dapat dimulai sejak masa kehamilan.

Ibu hamil yang mengalami anemia memiliki risiko lebih tinggi melahirkan bayi prematur maupun bayi dengan berat badan lahir rendah. Kondisi tersebut meningkatkan kemungkinan anak mengalami kekurangan zat besi sejak awal kehidupan sehingga berisiko mengalami anemia pada masa berikutnya.

Untuk membantu menurunkan angka anemia defisiensi besi di Indonesia, dr Ray menjelaskan para pakar bersama berbagai organisasi kesehatan telah menyusun tiga pilar utama sebagai pendekatan yang dapat diterapkan secara berkelanjutan. Ketiga pilar tersebut meliputi peningkatan edukasi, penguatan penelitian dan inovasi, serta perluasan skrining atau deteksi dini.

Pilar pertama adalah membangun awareness atau meningkatkan edukasi masyarakat. Pengetahuan mengenai pentingnya zat besi, pola makan bergizi, pemeriksaan kesehatan selama kehamilan, hingga deteksi dini dinilai menjadi fondasi utama untuk mencegah anemia sejak awal.

"Pengetahuan kesehatan yang baik memastikan lebih banyak orang hidup lebih sehat. Karena itu, awareness menjadi pilar pertama untuk memastikan Indonesia dapat mengatasi anemia defisiensi besi," jelas dr Ray.

Pilar kedua adalah memperkuat penelitian dan inovasi. Menurutnya, setelah puluhan tahun anemia masih menjadi masalah kesehatan, diperlukan pendekatan baru yang didukung riset untuk menemukan teknologi, metode edukasi, maupun strategi pencegahan yang lebih efektif. Hasil penelitian tersebut diharapkan dapat menjadi dasar dalam menyusun kebijakan maupun praktik penanganan anemia di Indonesia.

Pilar ketiga adalah memperluas skrining atau deteksi dini. Saat ini cakupan skrining anemia defisiensi besi pada anak di Indonesia masih rendah sehingga banyak kasus tidak terdeteksi. Karena itu, diperlukan metode skrining yang lebih mudah diakses, tidak invasif, dan dapat dilakukan lebih luas agar anak yang berisiko dapat dikenali sebelum mengalami anemia.

Kontribusi Danone terhadap Tiga Pilar dalam Mengatasi Anemia

Menurut dr Ray, penyelesaian anemia defisiensi besi tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, akademisi, organisasi profesi, industri, hingga media menjadi kunci agar ketiga pilar tersebut dapat berjalan secara bersamaan.

Pada pilar pertama, Danone Indonesia bekerja sama dengan Ikatan Bidan Indonesia melalui program edukasi berbasis digital untuk meningkatkan pengetahuan ibu hamil dan keluarga mengenai pentingnya pemenuhan zat besi serta deteksi dini anemia. Melalui program tersebut, edukasi dan skrining berhasil menjangkau lebih dari satu juta ibu dan balita dalam satu tahun.

Di bidang penelitian, Danone Indonesia berkolaborasi dengan berbagai perguruan tinggi dan peneliti di Indonesia untuk menghasilkan lebih dari 40 publikasi ilmiah mengenai nutrisi dan anemia defisiensi besi. Sejumlah hasil penelitian tersebut juga menjadi salah satu referensi dalam upaya pencegahan anemia di tingkat sekolah.

Sementara pada pilar skrining, Danone bersama para peneliti mengembangkan Iron Calculator, yaitu alat skrining berbasis digital yang membantu mengidentifikasi risiko anemia defisiensi besi non invasif. Menurut dr Ray, pendekatan ini telah digunakan untuk melakukan lebih dari satu juta skrining dan ditargetkan dapat menjangkau hingga 30 juta skrining secara global pada 2030.

Menurutnya, penerapan ketiga pilar tersebut secara konsisten diharapkan dapat menurunkan angka anemia defisiensi besi sekaligus meningkatkan kualitas SDM Indonesia.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Video: Awas, Nutrisi Penting Hilang Saat Masak gara-gara Kesalahan Ini"
[Gambas:Video 20detik] (mal/up)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads