Anemia defisiensi besi selama ini lebih sering dipandang sebagai masalah kesehatan. Padahal, dampaknya tidak berhenti pada tubuh yang mudah lelah atau menurunnya kadar hemoglobin. Kondisi ini juga dapat memengaruhi prestasi belajar, kualitas sumber daya manusia (SDM), hingga pertumbuhan ekonomi suatu negara.
Medical & Scientific Affairs Danone Indonesia, Dr dr Ray Wagiu Basrowi, MKK, PhD, mengatakan anemia defisiensi besi telah menjadi tantangan kesehatan di Indonesia sejak sebelum kemerdekaan. Setelah lebih dari 80 tahun, masalah tersebut masih ditemukan pada sekitar satu dari empat anak balita serta satu dari empat ibu hamil dan ibu menyusui.
"Yang ditakuti dari anemia defisiensi besi pada anak bukan hanya masalah klinis atau masalah kesehatan," kata dr Ray dalam talkshow di Pabrik Danone Spesialized Nutrition Prambanan, Jawa Tengah, Rabu (8/7/2026).
Dampaknya Bisa Terasa Hingga Dunia Pendidikan dan Dunia Kerja
dr Ray menjelaskan bahwa kekurangan zat besi pada masa awal kehidupan tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga perkembangan otak anak. Berbagai lembaga internasional, seperti WHO dan UNICEF, telah menunjukkan bahwa anak dengan anemia defisiensi besi berisiko mengalami penurunan prestasi akademik dibandingkan anak dengan status zat besi yang baik.
Hal tersebut juga terlihat dalam penelitian yang dilakukan bersama sejumlah peneliti di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan anak sekolah dasar yang mengalami anemia defisiensi besi memiliki working memory score yang lebih rendah. Working memory merupakan kemampuan otak untuk menyimpan dan mengolah informasi dalam waktu singkat, yang berperan penting dalam proses belajar, memahami pelajaran, memecahkan masalah, hingga mengambil keputusan.
"Kalau working memory anak terganggu, proses belajarnya juga ikut terganggu. Dalam jangka panjang, kondisi ini akan memengaruhi kualitas sumber daya manusia dan produktivitas ketika mereka memasuki usia kerja," ujar dr Ray.
Mengapa Anemia Bisa Memengaruhi Ekonomi Negara?
Menurut dr Ray, tingginya angka anemia defisiensi besi bukan hanya menjadi persoalan individu, tetapi juga persoalan pembangunan bangsa.
"Anemia defisiensi besi adalah juga masalah ekonomi. Kalau suatu negara masih tinggi angka anemia defisiensi besinya, maka ancaman terhadap kemajuan ekonomi menjadi lebih besar," ujarnya.
Hal ini berkaitan dengan kualitas sumber daya manusia. Ketika banyak anak mengalami gangguan perkembangan akibat kekurangan zat besi, kemampuan belajar, produktivitas, dan kualitas tenaga kerja pada masa depan ikut terdampak. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat menurunkan kualitas human capital yang menjadi salah satu faktor penting dalam pertumbuhan ekonomi suatu negara.
Simak Video "Video: Awas, Nutrisi Penting Hilang Saat Masak gara-gara Kesalahan Ini"
(mal/up)