Minggu, 13 Jun 2021 07:46 WIB

Kolaps Seperti Eriksen? Dokter: Langsung CPR, Bukan Tepuk-tepuk Lengan!

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
COPENHAGEN, DENMARK - JUNE 12: Denmark players surround Christian Eriksen (Hidden) of Denmark as he receives medical treatment during the UEFA Euro 2020 Championship Group B match between Denmark and Finland on June 12, 2021 in Copenhagen, Denmark. (Photo by Stuart Franklin/Getty Images) Momen Christian Erikson mendapat pertolongan usai kolaps (Foto: Getty Images/Stuart Franklin)
Jakarta -

Gelandang Denmark Christian Eriksen mendapat pertolongan CPR (cardio pulmonary resuscitation) setelah kolaps di tengah laga Euro 2020 antara Denmark vs Finlandia. Ini adalah pertolongan pertama yang wajib diberikan pada kasus henti jantung.

"CPR meningkatkan kemungkinan seseorang yang mengalami cardiac arrest (henti jantung), survive hingga 44 persen," kata dr Vito A Damay, SpJP(K), dokter jantung dari Siloam Hospital Karawaci, Minggu (13/6/2021).

Eriksen bukan pemain bola pertama yang kolaps di tengah laga lalu mendapat pertolongan CPR. Pada 2012, pemain Bolton Wanderers, Fabrice Ndala Muamba juga kolaps dan terselamatkan oleh CPR. Dramatis, sebab jantungnya sempat 'meninggal' selama 78 menit sebelum akhirnya hidup lagi.

Menurut dr Vito, pengetahuan dan ketrampilan untuk memberikan CPR sebagai pertolongan pertama henti jantung wajib dimiliki orang-orang yang bekerja di bidang pelayanan publik. Bahkan juga para pegiat olahraga agar bisa menolong rekan di komunitasnya jika sewaktu-waktu ada yang kolaps.

Sayangnya, seseorang yang sudah pernah mendapat pelatihan basic life support dan CPR terkadang merasa ragu atau tidak percaya diri ketika tiba-tiba harus berhadapan dengan kasus henti jantung. Ketrampilan yang sudah dipelajari lalu tidak diterapkan karena dibayangi perasaan takut salah. Saran dokter, tetap lakukan seperti yang pernah diajarkan demi menyelamatkan nyawa korban.

"Lebih baik lakukan teknik CPR yang pernah dilatih, dan lalukan sebaik yang Anda bisa. Itu lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa, atau melakukan hal lain yang tidak menolong sama sekali seperti di siram air mukanya, ditampar wajahnya atau ditepok tepok lengannya," pesan dr Vito.

Dalam beberapa broadcast yang viral, menepuk-nepuk lengan kiri disebut bisa menyelamatkan seseorang dari henti jantung atau serangan jantung. Dokter menegaskan, cara ini tidak ada manfaatnya dan bisa berakibat fatal jika akhirnya malah terlambat mendapat pertolongan medis.

Ditegaskan juga, langkah paling PERTAMA yang harus dilakukan saat menghadapi kasus henti jantung adalah memanggil bantuan. Bila menggunakan ponsel, tombol loud speaker bisa diaktifkan agar bisa melakukan panggilan sembari melakukan CPR.

"Tombol loud speaker Anda tekan supaya sambil menolong dan berpikir anda bisa leluasa tidak perlu pegang ponsel," saran dr Vito.

Terkait risiko penularan COVID-19, dr Vito mengingatkan untuk tetap menggunakan masker saat memberikan CPR. Bantuan napas dari mulut ke mulut, umumnya memang tidak dianjurkan. CPR cukup dilakukan dengan pijat jantung.



Simak Video "Olahraga Sebabkan Kematian?"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)