Henti Jantung Bisa Terjadi Saat Olahraga, Masih Bisakah Diselamatkan?

Henti Jantung Bisa Terjadi Saat Olahraga, Masih Bisakah Diselamatkan?

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Rabu, 10 Des 2025 18:31 WIB
Henti Jantung Bisa Terjadi Saat Olahraga, Masih Bisakah Diselamatkan?
Foto ilustrasi: Getty Images/sompong_tom
Jakarta -

Henti jantung merupakan penyebab kematian yang kerap terjadi tanpa peringatan yang jelas. Kondisi darurat ini bisa terjadi pada siapa saja, baik orang dengan riwayat penyakit jantung maupun yang tampak sehat.

Kondisi ini kebanyakan terjadi secara mendadak. Lantas, seberapa besar peluang untuk bisa diselamatkan?

Spesialis olahraga, dr Andhika Raspati, SpKO mengungkapkan seseorang yang mengalami henti jantung, tak terkecuali saat olahraga, masih memiliki peluang selamat, jika segera diberikan Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) atau Resusitasi Jantung Paru (RJP).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau serangan jantung ya lumayan ada waktu ke IGD," ucapnya dalam acara detikSore, Selasa (9/12/2025).

"Tapi, kalau (henti) jantung harus on site, mesti langsung bahkan kita cuma punya waktu 3 menit sebenarnya untuk segera CPR atau AED (Automated External Defibrillator)," sambungnya.

ADVERTISEMENT

Automated External Defibrillator (AED) atau defibrilator eksternal otomatis merupakan alat medis portabel yang berfungsi menganalisis irama jantung dan memberikan kejutan listrik secara otomatis. Hal ini dilakukan untuk mengembalikan detak jantung normal pada orang yang mengalami henti jantung.

Lalu, kondisi seperti apa yang harus langsung mendapat CPR?

dr Andhika mengatakan penting untuk mengidentifikasi orang seperti apa yang sangat membutuhkan CPR. Salah satunya memberikan rangsangan kepada orang yang mendadak pingsan.

"Kalau ada orang pingsan terus kita kasih rangsangan, mau dipanggil-panggil, kita tepuk-tepuk, kita kasih rasa nyeri tapi tidak memberikan respons dalam bentuk apapun, kita bisa anggap dia henti jantung," terang dia.

"Kalau misalkan ragu nih, kita mungkin bisa ngecek nadi atau ragu sendiri, sudah start (mulai) CPR. Tapi, sebelum itu call for help dulu, karena kalau kita nggak panggil bantuan, seperti ambulans atau segala macam, mau sampai kapan (CPR)," pungkasnya.




(sao/up)
Lagi-lagi Kolaps saat Lari
21 Konten
Anjuran 'listen to your body' saat lari tak selalu gampang diterapkan. Ego untuk 'push the limit' dan mendapatkan progres tertentu sesuai target, dapat mengaburkan batas-batas kemampuan fisik. Risiko jantung kolaps mengintai para pelari.

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads