Tren 'Sahur Run' Bisa Lebih Berisiko, Dokter Bagikan Plus Minusnya

Devandra Abi Prasetyo - detikHealth
Kamis, 12 Mar 2026 03:15 WIB
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Jakarta -

Dalam beberapa tahun terakhir, hadir tren lari unik di beberapa kota saat bulan Ramadan, yaitu 'sahur run' atau berlari di bawah langit malam dan menutupnya dengan santap sahur.

Bagi komunitas lari, 'sahur run' merupakan momen yang dinanti setiap Ramadan tiba. Hal ini karena tren ini menawarkan suhu yang lebih dingin, dan pastinya suasana yang berbeda.

Menurut spesialis kedokteran olahraga, dr Andhika Raspati, SpKO lari sebelum sahur memiliki keuntungan dan kekurangannya, sehingga setiap pelari harus cermat dalam memutuskan.

"Plusnya mungkin orang masih bisa makan minum sepuasnya ya, maksudnya nggak ada larangan makan minum gitu," kata dr Dhika saat dihubungi detikcom, Selasa (10/3/2026).

"Tapi yang jadi minusnya adalah, yang saya pribadi lihat, dia lari jam 2 pagi itu cukup nggak tidurnya sebelumnya?" sambungnya.

dr Dhika menambahkan, terkait risiko adanya risiko ke jantung atau paru-paru, mungkin tidak akan menjadi masalah jika dilakukan sesekali. Namun, jika 'sahur run'-nya naik level seperti mengikuti event dengan intensitas sedang ke tinggi, ini perlu menjadi perhatian.

"Kalau terkait masalah jantung apa segala macem, kalau cuma sesekali mungkin nggak gitu masalah lah. Tapi tadi, dalam kondisi orang kurang tidur, dipaksa untuk beraktivitas berat kan, ada resikonya ya," kata dr Dhika.

"Buat mereka yang punya masalah jantung bisa jadi muncul gitu. Terus juga belum bicara fokus berkurang, sehingga secara awareness akan lebih turun, jadi memang itu yang jadi nilai minus kali," sambungnya.




(dpy/up)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork