Sebagian orang mungkin rutin memantau 'step count' di smartphone atau smartwatch. Tetapi, masih ada yang bingung apa yang perlu diperhatikan, target jumlah langkah atau kecepatannya?
Sebuah riset terbaru yang dipublikasikan dalam British Journal of Sports Medicine membahas hal tersebut. Disebutkan bahwa melangkah lebih sedikit dengan tempo lebih cepat, bisa memberikan manfaat kesehatan yang setara dengan melangkah lebih banyak tetapi pelan.
Peneliti studi dari Monash University, Prof Emmanuel Stamatakis, menyebut target populer 10 ribu langkah sehari sebenarnya bukan berasal dari temuan ilmiah. Itu merupakan promosi pedometer di Jepang pada era 1960-an.
Bagi orang yang sibuk atau lansia, target tersebut sering kali terasa memberatkan.
"Seseorang yang berjalan 4.000 langkah sehari dengan tempo lebih mantap sudah melakukan hal yang bermanfaat. Begitu pula bagi yang tidak bisa berjalan cepat, mereka tetap mendapatkan manfaat besar dengan mengumpulkan lebih banyak langkah dalam kecepatan yang santai," ujar Prof Stamatakis, dikutip dari CNN.
Gaya Hidup Menentukan Pilihan
Berdasarkan analisis data pergerakan lebih dari 100 ribu partisipan di UK Biobank, para peneliti menemukan efek dari gaya hidup tersebut. Orang yang berjalan di bawah 5.000 langkah per hari, tetapi memiliki kecepatan minimal 80 langkah per menit, mengalami penurunan risiko kematian dini yang signifikan.
Manfaat tersebut sebanding dengan kelompok yang berjalan 5.000 hingga 7.500 langkah per hari, dengan tempo lebih lambat atau sekitar 60 langkah per menit. Lantas, mana yang lebih baik dipilih?
Prof Stamatakis menegaskan bahwa kedua opsi tersebut sama baiknya. Intensitas berjalan bersifat relatif sesuai usia, serta kondisi fisik masing-masing.
"Jika waktu menjadi kendala, mempercepat langkah adalah pilihan yang lebih efisien dari segi waktu," kata Prof Stamatakis.
"Namun, saya tidak menyarankan untuk memaksakan pilihan. Pilihan yang paling tepat adalah mana saja yang masih bisa kamu jalani secara konsisten," jelasnya.
(sao/naf)