Tren Olahraga Makin Kompetitif, Sepenting Apa Jam Pintar Buat Memonitor Jantung?

Aura Zahradiva Penggalih - detikHealth
Kamis, 01 Okt 2026 07:07 WIB
Jam pintar dengan fitur elektrokardiogram. Foto: Andhika Prasetia/DetikFoto
Jakarta -

Tren olahraga saat ini berkembang tidak sekadar sebagai rutinitas menjaga kebugaran, melainkan sudah bergeser menjadi gaya hidup yang semakin kompetitif. Dari ajang maraton hingga latihan fisik harian, banyak orang terdorong untuk terus melampaui batas demi mencapai pencapaian terbaik.

Di tengah semangat kompetitif ini, aspek mendasar yang paling krusial sering kali terabaikan, seperti kondisi dan kesehatan organ vital jantung itu sendiri. Lantas, seberapa penting peran perangkat pintar seperti smartwatch dalam mengawal aktivitas fisik berintensitas tinggi?

Sehat Dulu, Baru Berolahraga

Training Director Huawei Device Indonesia, Edy Supartono menekankan, tujuan utama dari berolahraga pada dasarnya adalah menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh, bukan sekadar memburu aktivitas fisiknya semata.

Keberadaan teknologi pemantau kesehatan pada perangkat pintar bertindak sebagai sistem manajemen kesehatan yang menilai kesiapan fisik (physical readiness) seseorang sebelum mulai berolahraga.

Perangkat pintar memberikan panduan awal apakah kondisi fisik siap untuk melakukan olahraga berat atau justru membutuhkan istirahat.

"Makanya, health management system (dalam perangkat pintar) itu juga membantu untuk mempersiapkan si pengguna ini untuk melakukan olahraga. Jadi, dia mempersiapkan secara awal, dia memberitahu kepada penggunanya apakah secara physical dia ready untuk olahraga atau nggak," jelas Edy kepada detikcom usai Media Roundtable Huawei di Jakarta, Rabu (30/9/2026).

"Kemudian, yang berikutnya, pada saat dia melakukan olahraga, tidak hanya sekadar untuk mendeteksi kualitas dari olahraganya, tapi juga memberikan analisis," lanjutnya.

Jam Pintar HUWEI Watch GT 7 Pro dengan fitur-fitur pemantau kesehatan jantung dan metabolisme tubuh. Foto: Andhika Prasetia/DetikFoto

Pandangan Medis: Jangan Nekat Mengabaikan Sinyal Tubuh

Dari sudut pandang medis, kebiasaan menantang fisik melebihi batas-batas kemampuan sendiri tanpa keterukuran dan pembiasaan fisik yang matang saat berolahraga berat sangat tidak dianjurkan.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Dr dr Isman Firdaus, SpJP(K), FIHA, FESC, FSCAI mengingatkan, para pegiat olahraga agar tidak nekat memaksakan diri mengikuti kecepatan atau standar orang lain.

"Buat yang masih baru olahraga, bukannya nggak boleh (olahraga berat). Ikut aja, nggak apa-apa, tapi jangan dipaksain untuk ngebut ngikutin para profesional yang udah terbiasa lari. Jalan aja biasa, lari biasa. Kalau udah capek itu, jangan dipaksain," ucap dr Isman saat diwawancarai, Senin (29/9/2026).

dr Isman menjelaskan, untuk tujuan kebugaran harian, batas intensitas latihan sebaiknya dijaga pada rentang moderat, yaitu 50 hingga 85 persen dari detak jantung maksimal.

Mengabaikan rasa lelah demi mencapai target tertentu sama saja dengan membahayakan kesehatan organ vital.




(aur/up)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork