Kamis, 08 Agu 2019 13:30 WIB

Perjuangan Pasutri Bekerja Penuhi ASI Eksklusif Anak, Pernah Basi Sekulkas

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Yashinta dan Affan berjuang memenuhi ASI eksklusif anak. (Foto: Frieda Isyana Putri/detikHealth) Yashinta dan Affan berjuang memenuhi ASI eksklusif anak. (Foto: Frieda Isyana Putri/detikHealth)
Topik Hangat Pekan ASI Sedunia 2019
Jakarta - Memilih menjadi pasangan suami-istri yang bekerja tentu juga harus bisa menerima risikonya. Apalagi demi sang anak mendapatkan ASI eksklusif banyak perjuangan yang dilakukan.

Salah satunya dialami Yashinta Novia Mayasari (27), banyak lika-liku ia lalui untuk memenuhi ASI eksklusif bagi kedua anaknya. Mulai dari perjuangan menempuh Jakarta-Semarang untuk membawa stok ASI perah (ASIP), sampai membuang stok ASIP basi satu kulkas penuh karena mati listrik.

"Menyusui pasti ada perjuangannya sendiri-sendiri ya, apalagi kalau ibu bekerja kan. Membagi waktunya yang lebih susah karena kita kan harus kerja dan harus mikirin anak yang ditinggal. Sempet banget (alami hilang stok ASI)," tutur wanita yang bekerja di Kementerian Pariwisata ini, saat berbincang dengan detikHealth, Rabu (7/8/2019).

Yashinta mengisahkan saat itu ia baru kembali ke Jakarta usai cuti melahirkan selama 3 bulan di Semarang. Tiba-tiba ia mendapat kabar bahwa hampir 100 pack atau sekulkas penuh ASIP yang ia kumpulkan selama masa cuti tersebut mencair karena listrik mati dan semuanya basi, harus dibuang.


"Tiga bulan pumping waktu cuti udah ilang semua. (Iya) mati listrik, itu kan di rumah cuma ada kakeknya jadi mungkin kesenggol atau apa jadi kulkasnya mati. Ya sudah itu kebuang satu ember, satu kulkas," curhatnya.

Sempat down karena peristiwa tersebut, beruntung Yashinta memiliki seorang suami sekaligus ayah ASI yang sigap. Sang suami, Affan Falastyn (27), membantu motivasi dirinya untuk kembali semangat menyetok ASIP, meski diakuinya harus kejar-kejaran bangun tengah malam, dua jam sekali untuk pumping.

Yashinta dan Affan juga pernah harus bolak-balik Jakarta-Semarang seminggu sekali untuk membawa stok ASIP saat anak pertamanya Ganendra berada di Semarang. Mereka juga kembali mengalaminya saat anak kedua, Revandra, sakit dan sementara beristirahat bersama nenek-kakeknya di sana.

Namun pekerjaan membuat mereka harus memilih mengirimkan ASIP tanpa mengantarkannya naik kereta seperti dulu. Setelah mencari-cari mulai dari kargo hingga paket kereta, mereka menemukan jasa yang bisa langsung mengantar ASIP lebih cepat dan kondisi masih bagus. Dua hari sekali mereka mengirimkan ASI untuk Revan di Semarang lewat paket selama 4 bulan kemarin.


Ketika sebagian pulau Jawa mengalami listrik padam massal di akhir pekan lalu, pasangan asal Semarang ini beruntung tak sedang berada di Jakarta. Mereka sedang berada di kereta dalam perjalanan pulang dari Semarang, namun sempat tertahan cukup lama di Bekasi imbas kejadian tersebut.

"Untung kemarin pas perjalanan dari Semarang juga, cuma sebagian (ASIP) yang dibawa. Alhamdulillah ice gelnya banyak sih, jadi kebantu. Ada cooler box, cooler bag apalagi kan karena dua hari sekali berarti berapa aja tiap dua hari kirim. Berarti cadangannya banyak, ice gelnya udah nggak terhitung," kata Yashinta.

"Sampai di Bekasi sore, KRL kan terhambat semua, jadi kita nunggu satu jam di Bekasi," imbuh Affan.

Sebagai suami, Affan mengaku tak malu mencari tahu soal menjadi Ayah ASI dan pendamping terbaik bagi sang istri. Awalnya ia diajari oleh Yashinta, lalu mendapat ajaran dari rumah sakit soal memijit agar ASI keluar, dan juga mencari di internet.

"Biasanya kita lihat video di YouTube ada seminar-seminar. Jadi kita belajar dari dokter-dokter yang share di YouTube, caranya gimana sih untuk jadi Ayah ASI?" ungkap pria kelulusan Universitas Gadjah Mada ini.


Affan juga mengimbau untuk para ayah muda lainnya agar mau belajar dan tidak menganggap menyusui hanyalah urusan wanita atau istri saja. Dukungan dari suami untuk membantu istri bisa berdampak pada kadar stres dan juga produksi ASI eksklusif.

Yashinta menyebut bersyukur kedua anaknya sehat dan tidak mengalami bingung puting. Ditambah lagi, dengan komunikasi dan berbagi kerja bersama sang suami, kedua anaknya bisa menerima ASI eksklusif secara penuh.

"Iya (bagi kerja). Untungnya suami ya tahu banget, jadi kalau saya malem-malem pumping, suami yang beresin semuanya. Semua urusan ayahnya kalau aku yang bagian 'nempel' hehehe," katanya.

Menjadi kedua orang tua yang bekerja, Yashinta dan Affan tak lepas dari omongan negatif dan juga beberapa stigma. Namun mereka memutuskan untuk berpikir bahwa apapun itu, merekalah berdua yang menjadi orang tua dan yang menjalani, saling mendukung dan membantu satu sama lain.

"Sebenarnya kunci atau keberhasilan untuk menyusui kan dari kita sendiri. Ini kan anak yang perlu kita perjuangkan sendiri ya, siapa lagi kalau nggak orang tuanya yang memperjuangkan. Jadi kita harus bener-bener semangat aja untuk menjalani hidup ini, kan juga buat anak ya," tandas Yashinta.



Simak Video "Bunda, ASI Eksklusif Bisa Lindungi Anak dari Kanker Darah"
[Gambas:Video 20detik]
(frp/fds)
Topik Hangat Pekan ASI Sedunia 2019
News Feed