Kamis, 25 Jul 2019 08:05 WIB

Round Up

Distributor 'Nakal' Bikin Obat Palsu, Salurkan ke 197 Apotek di Jabodetabek

Rosmha Widiyani - detikHealth
Ilustrasi peredaran obat palsu (Foto: Grandyos Zafna) Ilustrasi peredaran obat palsu (Foto: Grandyos Zafna)
Jakarta - Peredaran obat palsu kembali terjadi di Indonesia yang dilakukan Pedagang Besar Farmasi (PBF) PT Jaya Karunia Investindo (JKI). Sebanyak 197 apotek di kawasan Jabodetabek menjadi korban pelaku yang menggunakan modus repackaging. Obat generik dikemas menjadi obat bermerk sehingga bisa dijual lebih mahal yang dilakukan juga pada obat kadaluwarsa.

Peredaran obat palsu sebetulnya bukan kasus baru yang kerap terjadi di masyarakat. Dalam kasus ini Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan telah membekukan izin operasional PBF PT JKI. Dalam siaran persnya, BPOM juga merekomendasikan pencabutan izin PBF PT JKI pada Kementerian Kesehatan. Pelaku yang merupakan pemilik PBF PT JKI dan produsen obat palsu sempat terkena kasus serupa pada 2018.

Dalam kasus ini BPOM tidak bersedia membuka daftar apotek yang disebut masuk dalam distribusi obat palsu. BPOM sendiri sepakat repackaging adalah kejahatan yang merugikan masyarakat. Meski tidak menjelaskan apotek yang menjadi korban obat palsu, BPOM memastikan menarik produk dari PBF JKI di Jabodetabek, melakukan verifikasi produk dengan produsen obat, memusnahkan produk palsu, dan melakukan pengawasan.

"Dapat kami tegaskan apotek adalah korban dari kejahatan seperti ini. Tidak perlu nama apoteknya kita share di luar. Sekali lagi, apotek ini merupakan korban. Kami tidak mau menyebut namanya," kata Plt. Direktur Pengawasan, Kemananan, Mutu dan Ekspor Impor Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor dan Zak Adiktif (ONPPZA) BPOM Rita Endang pada detikHealth.



Rita menyarankan masyarakat tidak perlu cemas menghadapi obat palsu, namun wajib waspada. Masyarakat sebaiknya memperhatikan detail obat yang akan digunakan, apalagi bagi yang rutin mengonsumsinya. Rita yakin masyarakat bisa membedakan keaslian obat, karena yang banyak dipalsukan umumnya untuk terapi jangka panjang misal pada penyakit diabetes. Masyarakat wajib curiga jika menemukan ada yang tidak wajar pada produk obat.

"Karena dikonsumsi lama, masyarakat bisa tahu detail produknya misal kerapihan kemasan atau tingkat keruh pada produk obat sirup. Selain itu bisa cek label, nomer izin edar, tanggal kadaluwarsa produk. Jika masih curiga bisa ke laboratorium untuk pemeriksaan lebih lanjut. Kami berharap masyarakat bisa menjadi perpanjangan tangan BPOM dalam pengawasan dengan segera lapor jika produk yang mencurigakan," kata Rita.



Kasus obat palsu mendapat perhatian dari Gabungan Pengusaha (GP) Farmasi karena kembali terulang. Menurut Ketua Komite Perdagangan dan Industri Bahan Baku Farmasi Gabungan Pengusaha (GP) Farmasi Vincent Harijanto, peluang terulang selalu ada karena tiap orang bisa membeli sendiri mesin produksi, cetak, dan teknologi pendukung lain. Produk asli juga makin terlihat mirip dengan yang asli.

Menurut Vincent, menghadapi kasus obat saat ini BPOM harusnya bisa lebih peka. Produsen dan PBF harus memberikan laporan tiap 3 bulan yang berisi kepada siapa obat dijual, berapa jumlahnya, harganya, tahapan produksi, dan bahan baku. Laporan harus dibaca dengan cermat sehingga bisa segera tahu jika ada kasus obat palsu. Vincent juga 'mengkritik' pemilik apotek yang seharusnya langsung curiga jika kemasan obat terlihat rusak, atau ada perubahan harga misal lebih rendah dari biasanya.

"Agak sulit ya buat konsumen membedakan obat asli dan bukan, karena semua dianggap sama. Harusnya memang dari jalur distribusi dan BPOM yang pengawasannya bisa lebih peka. Tapi memang ada anjuran supaya masyarakat bisa membeli obat yang asli. Tentunya anjuran bisa dilaksanakan bila ada kesadaran dari masyarakat supaya tidak terjebak obat palsu. Ke depannya ada rencana penerapan QR Code pada obat supaya pengawasan bisa lebih baik," kata Vincent.

Kepada masyarakat, Vincent menyarankan lebih peka untuk menghindari terjebak obat palsu. Misal langsung curiga jika mendapat harga obat yang berubah dari biasanya, apalagi bila telah rutin mengonsumsinya. Masyarakat jangan senang dulu jika harga obat lebih murah karena bisa jadi ada bahan yang dikurangi atau tidak ada. Obat seperti ini wajib dicurigai meski kemasan terlihat sama dengan yang asli.



Simak Video "Hati-hati! Obat Penyakit Diabetes Paling Banyak yang Dipalsukan"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)