Selasa, 28 Des 2021 14:10 WIB

Belajar dari Delta, Efek Omicron Diprediksi Tak Langsung Picu Lonjakan

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Strips of newspaper with the words Omicron and Covid-19 typed on them. Omicron variant of COVID-19. Black and white. Close up. Omicron (Foto: Getty Images/iStockphoto/Professor25)
Jakarta -

Pakar epidemiologi Universitas Griffith Australia menilai Omicron di Indonesia sudah menyebar sejak awal November. Meski begitu, efek menyebarnya Omicron di masyarakat tak akan langsung terlihat.

Setidaknya butuh waktu beberapa pekan ke depan untuk melihat risiko yang terjadi akibat COVID-19 Omicron. Masyarakat diminta waspada karena Omicron masih bisa menyerang orang yang sudah divaksinasi lengkap dan memiliki imunitas dari infeksi sebelumnya.

"Dia (Omicron) itu sebagaimana Delta awal-awal, Delta itu kan perlu waktu untuk akhirnya mencapai merambah menginfeksi kelompok yang rawan yang belum divaksinasi, yang belum terinfeksi saat itu," beber Dicky kepada detikcom Senin (27/12/2021).

"Nah masalahnya kenapa Omicron ini harus disikapi sangat hati-hati, karena berbeda dengan Delta, Omicron itu muncul di tengah dunia saat ini sudah banyak yang divaksinasi, terinfeksi, artinya punya imunitas, tapi dia masih bisa menyebar," lanjutnya.

Meski begitu, Dicky menilai efeknya tidak terlalu besar lantaran masyarakat sudah memiliki imunitas dari vaksinasi maupun infeksi alamiah. Di sisi lain, ia tetap mewanti-wanti risiko deteksi kasus COVID-19 Indonesia masih mengalami gap cukup besar dengan angka yang sebenarnya terjadi.

"Sehingga ini hati-hati menjadi surveilans bias atau menjadi seperti tidak terlihat, padahal kita kan masih dalam level community transmission," bebernya.

"Artinya kemampuan kita mendeteksi kasus di masyarakat ini belum membaik sebetulnya, artinya yang ditemukan dengan kasus yang dilaporkan sebenarnya terjadi di masyarakat ada gap kesenjangan walaupun itu tidak sebesar sebelumnya," sambung dia.

Dicky melanjutkan, Omicron juga masih bisa memicu reinfeksi pada orang yang terpapar COVID-19 Delta. Karenanya, risiko long COVID-19 juga semakin besar.

"Antara lain misalnya merusak sel saraf otak, ginjal, paru, dan sebagainya jangan sampai kita terkecoh, terdistraksi pengertian yang mild ini, semua varian begitu (jika menginfeksi orang yang sudah divaksinasi dan dalam kondisi sehat)," sambungnya.

"Kalau bicara ringan sedangnya COVID-19 sangat berbeda dengan flu, karena ada dampak long COVID-19 dan dia bisa fatal, fatal sekali bisa menyebabkan kematian. Mild-nya COVID-19 pada lansia itu menyebabkan 10 persen kematian lansia, mild-nya COVID-19 itu bisa menyebabkan kerusakan pembuluh darh di anak dan banyak contoh lain," pungkas dia.



Simak Video "Dokter Paru Jelaskan Alasan 89% Gejala Omicron Batuk Kering"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)