Selasa, 21 Jun 2022 05:00 WIB

Round Up

Benarkah Dokter Lulusan Luar Negeri Susah Praktik di Indonesia?

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Close-up portrait of doctor in hospital operating room Forum dokter susah praktik mengeluhkan sulitnya pengurusan izin (Foto: Getty Images/graphixel)
Jakarta -

Sekelompok dokter menyampaikan keresahannya tentang pengurusan izin praktik, terutama bagi lulusan luar negeri. Mereka mengatasnamakan Forum Dokter Susah Praktik (FDSP).

Dalam rapat bersama Komisi IX DPR RI, perwakilan FDSP dr Anthony menyebut kultur feodalisme di kedokteran Indonesia membuat pengurusan izin praktik menjadi lebih rumit dibanding di negara maju. Ia juga menuding IDI (Ikatan Dokter Indonesia) terlalu superior dalam urusan tersebut.

"Pertanyaannya adalah kita bisakah memperbaiki dengan mengimplementasikan dalam hukum-hukum yang pasti. Kemudian banyak organisasi di bawah IDI, karena IDI ini dianggap paling superior membawahi KKI, MKKI, PB IDI, kolegium spesialis bidang masing-masing kedokterannya," katanya, Senin (20/6/2022).

Salah satu masalah yang disampaikan dr Anthony adalah proses adaptasi bagi dokter lulusan luar negeri yang dirasakan terlalu berbelit. Menurutnya, tidak seharusnya pengurusan izin dokter lulusan luar negeri dibedakan dan dibikin lebih rumit.

"Waktu tunggu proses adaptasi kisaran paling cepat tujuh bulan, bisa sampai dua tahun. Bahkan saya saat mau adaptasi, ada dokter anak lulusan negara lain itu sampai lima tahun tidak dipanggil-panggil untuk interview. Dalihnya, untuk menyamaratakan. Dianggap bisa menyamaratakan, untuk menyamaratakan kompetensi," beber dr Anthony.

Bahkan dengan gamblang, dr Anthony menyebut ada 'pemerasan terselubung' dalam pengurusan izin praktik dokter lulusan luar negeri. Ia mencontohkan di salah satu universitas, biaya adaptasi bisa mencapai Rp 50-180 juta.

"Ini bisa dikatakan sebagai pemerasan terselubung berjas putih," tegasnya.

Persoalan lain yang disorot adalah eksploitasi terhadap calon dokter spesialis. Menurut dr Anthony, seharusnya residen atau calon dokter spesialis mendapatkan gaji yang pantas dan waktu istirahat yang cukup. Selama ini, kedua hal tersebut tidak terpenuhi.

"Setiap orang perlu mendapatkan penghasilan. Itu bagian dari HAM, bukan dieksploitasi terus 'uang orangtua'," keluh dr Anthony.

NEXT: Tanggapan IDI

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Dituding Persulit Izin Praktik Dokter Lulusan Luar Negeri, Apa Kata IDI?"
[Gambas:Video 20detik]