ADVERTISEMENT

Rabu, 20 Jul 2022 12:00 WIB

Tolak Legalisasi Ganja Medis, MK Ungkap Alasannya

Vidya Pinandhita - detikHealth
Ganja Medis Ilustrasi putusan MK terkait wacana legalisasi ganja medis.
Jakarta -

Mahkamah Konstitusi mengumumkan putusan terkait wacana legalisasi ganja medis. Hal itu menyusul aspirasi oleh Ibu Santi Warastuti beberapa waktu lalu di Car Free Day (CFD) Jakarta. Dalam kesempatan tersebut, Ibu Santi mengisahkan sang anak yakni Pika mengidap cerebral palsy atau kelumpuhan otak dan membutuhkan penanganan menggunakan ganja medis.

Mahkamah Konstitusi menyampaikan pihaknya tidak bisa membenarkan keinginan para pemohon, salah satunya yakni Ibu Santi, terkait penggunaan Narkotika Golongan I untuk pelayanan kesehatan atau terapi. Dengan alasan, golongan narkotika tersebut berpotensi tinggi mengakibatkan ketergantungan.

"Berkaitan dengan pemanfaatan jenis Narkotika Golongan I untuk pelayanan kesehatan dan atau terapi, sebagaimana yang dimohonkan oleh para Pemohon, hal tersebut sama halnya dengan keinginan untuk mengubah pemanfaatan jenis Narkotika Golongan I yang secara imperatif hanya diperbolehkan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan," beber Hakim MK Suhartoyo dalam Sidang Pengucapan Putusan/Ketetapan, Rabu (20/7/2022).

"Pembatasan pemanfaatan demikian tidak terlepas dari pertimbangan bahwa jenis Narkotika Golongan I tersebut mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan," sambungnya.

Selain itu, juga belum ada pengkajian dan penelitian komprehensif terkait penggunaan Narkotika Golongan I untuk terapi kesehatan.

"Oleh karena itu berdasarkan fakta-fakta hukum yang diperoleh dalam persidangan, telah ternyata keinginan para Pemohon untuk diperbolehkannya jenis Narkotika Golongan I untuk pelayan kesehatan dan atau terapi belum terdapat bukti telah dilakukan pengkajian dan penelitian bersifat komprehensif dan mendalam secara ilmiah," papar Suhartoyo lebih lanjut.

"Dengan belum adanya bukti ihwal pengkajian dan penelitian secara komprehensif tersebut, maka keinginan para Pemohon sulit dipertimbangkan dan dibenarkan oleh Mahkamah untuk diterima alasan rasionalitasnya, baik secara medis, filosofis, sosiologis, maupun yuridis," ujar Suhartoyo.

Dalam kesempatan tersebut Suhartoyo juga memaparkan, setiap jenis golongan narkotika memiliki dampak dan tingkat ketergantungan berbeda. Walhasil, dibutuhkan metode ilmiah sangat ketat untuk menentukan jenis dan golongan narkotika. Keinginan untuk menggeser atau mengubah pemanfaatan jenis narkotika golongan yang satu ke dalam golongan yang lain tidak dapat dilakukan secara sederhana.

"Oleh karena itu untuk melakukan perubahan sebagaimana tersebut di atas dibutuhkan kebijakan yang sangat komprehensif dan mendalami melalui tahapan penting yang harus dimulai dengan penelitian dan pengkajian ilmiah," ungkap Suhartoyo.

Ia juga memaparkan, jenis Narkotika Golongan I telah ditegaskan dalam Penjelasan Pasal 6 Ayat (1) huruf a UU 35/2009 hanya dapat dipergunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi tinggi menyebabkan ketergantungan. Narkotika Golongan I adalah jenis narkotika yang mempunyai dampak paling serius dibandingkan dengan jenis narkotika golongan lainnya.



Simak Video "Terkait Wacana Legalisasi Ganja Medis, Ini yang Jadi Sorotan PBNU"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/kna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT