ADVERTISEMENT

Kamis, 08 Sep 2022 20:31 WIB

ROUND UP

Tren 'Sleepover Date' Viral di Medsos, Pakar Ungkap Risiko Seks Bebas

Mochammad Fajar Nur - detikHealth
A portrait of a couple standing on a bedroom together, a man wrapping his hand on the womans shoulder, for marriage life, relationship and family life concept. Ilustrasi sleepover date. Foto: Getty Images/iStockphoto/Pranithan Chorruangsak
Jakarta -

Istilah 'sleepover date' viral di media sosial dan menjadi pembicaraan netizen. Istilah tersebut mengacu pada aktivitas menginap bersama pacar. Sontak hal ini menuai kritik sejumlah netizen yang menilai, istilah tersebut merujuk pada aktivitas seks bebas.

Pakar seks dr Boyke Dian Nugraha mewanti-wanti risiko penularan HIV di balik viral tren istilah tersebut. Ia khawatir istilah semacam ini mengaburkan perilaku seks bebas dengan segala risikonya.

"Sama saja. Semua perilaku seks bebas. Hati-hati HIV/AIDS," sebut dr Boyke kepada detikcom Kamis (8/9/2022).

Sementara Psikolog klinis dan founder pusat konsultasi Anastasia and Associate, Anastasia Sari Dewi, menegaskan istilah 'sleepover date' merupakan bentuk pengembangan menyusul istilah-istilah yang sudah pernah ada sebelumnya seperti Teman tapi Mesra (TTM) atau Friends with Benefits (FWB).

"Pandangan saya, ini (sleepover date) menjadi fenomena sosial yang dipopulerkan dengan istilah-istilah baru untuk menjelaskan hubungan satu orang dengan orang lainnya dengan lebih mudah," jelas Sari saat dihubungi detikcom, Rabu (7/9).

Senada dengan komentar sebelumnya, kemunculan istilah 'sleepover date' menurut Sari bisa merujuk pada aktivitas seks bebas. Dengan istilah tersebut, kesan vulgar pada perilaku seks bebas bisa dikaburkan. Ia khawatir, jika istilah tersebut semakin marak digunakan, perilaku seks bebas ikut semakin ternormalisasi.

"Memang dari kata-katanya sendiri pun, ini orang sudah bisa menyimpulkan arahnya ke sana. Tapi yang menjadi saya khawatir kalau dari sudut pandang psikologi, ini seolah-olah nanti istilah yang lebih mudah dikatakan. Semakin mudah dikatakan, menjadi normalisasi seolah-olah ini adalah hal yang normal, hal yang wajar, baik-baik saja," terangnya.

NEXT PAGE: Risiko fisik dan mental

Selanjutnya
Halaman
1 2

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT