Minggu, 28 Jul 2019 06:30 WIB

Round Up

Tetap Bugar di Tengah Buruknya Kepungan Polusi di Jakarta

Firdaus Anwar - detikHealth
Ilustrasi senam sehat di jantung kota Jakarta (Foto: Rachman Haryanto) Ilustrasi senam sehat di jantung kota Jakarta (Foto: Rachman Haryanto)
Jakarta - DKI Jakarta belakangan ini dalam pantauan oleh AirVisual beberapa kali menjadi salah satu kota dengan kualitas udara buruk sedunia. Pada hari Jumat (26/7) misalnya Jakarta sempat menempati peringkat pertama kota terburuk, menorehkan skor Air Quality Index (AQI) di angka 184.

AQI merupakan indeks yang menggambarkan tingkat keparahan kualitas udara berdasarnak enam jenis polutan utama di suatu daerah dengan skala penghitungan 0-500. Semakin tinggi nilainya menunjukkan semakin tinggi tingkat polusi udara di wilayah tersebut. Skor 0-5 berarti kualitas udara bagus, 51-100 berarti moderat, 101-150 tidak sehat bagi orang yang sensitif, 151-200 tidak sehat, 201-203 sangat tidak sehat, dan 301-500 ke atas berarti berbahaya.

Beberapa ahli menyebut penyebabnya bisa mulai dari karena faktor kemarau, proyek pembangunan trotoar jalan, dan yang terakhir karena penumpukan kendaraan di beberapa titik alias kemacetan. Menurut peneliti perubahan iklim dan kesehatan lingkungan Dr Budi Haryanto, SKM, MSPH, MSC dari Universitas Indonesia kasus polusi udara di Jakarta kali ini lebih banyak terjadi karena cemaran gas pembuangan sisa kendaraan.



Proyek pelebaran trotoar disebut-sebut biang polusi di DKI.Proyek pelebaran trotoar disebut-sebut biang polusi di DKI. Foto: Rolando/detikcom


Kualitas bahan bakar rendah ditambah teknologi mesin yang ketinggalan zaman membuat banyak kendaraan saat macet menghasilkan gas sisa. Dampaknya bagi kesehatan mulai dari risiko penyakit pernapasan, jantung, bahkan hingga kanker.



"Solar yang mengandung sulfur bisa mengganggu sistem saraf, mengganggu ginjal, bisa gangguan fungsi paru, jantung. Bensin karena ada benzena hidrokarbon bisa menyebabkan gangguan saraf pusat, gangguan paru, jantung. Efeknya jangka panjang. Kalau jangka pendek paling bersin-bersin batuk-batuk," kata Budi pada detikHealth.

Untuk mengatasi masalah polusi udara Jakarta ini menurut Budi cara yang paling baik adalah dengan mendorong masyarakat menggunakan transportasi publik. Selain itu bisa juga dengan meningkatkan kualitas bahan bakar mesin yang dijual dan uji emisi teratur untuk mengetahui kelayakan sebuah unit kendaraan.

Cara lainnya seperti menyiram air atau menanam pohon mungkin juga bisa berpengaruh meski tidak bermanfaat banyak.


Aktivitas warga di tengah kepungan polusi udara.Aktivitas warga di tengah kepungan polusi udara. Foto: Pradita Utama


Bike to Work

Gowes sepeda ke kantor atau istilah bekennya bike to work juga bisa dilihat sebagai alternatif moda transportasi minim polusi udara. Hanya saja Budi mengingatkan dalam situasi udara yang sudah terlanjur buruk seperti saat ini, disarankan berhati-hati memilih rute agar menghindari jalan yang ramai dilalui kendaraan bermotor.

Saat seseorang gowes sepeda maka metabolisme tubuh akan meningkat, membuatnya bernapas lebih cepat. Hal ini akan berdampak bila memilih rute jalan ramai kendaraan karena bukan tidak mungkin dirinya menghirup banyak polusi.

"Orang normal biasanya (tarik napas -red) semenit cuma 20 kali, nah yang naik sepeda bisa 40 kali kan ngos-ngosan. Berarti makin banyak debu yang kamu hirup, semakin banyak pencemaran udara yang masuk ke tubuh. Lebih aman cari jalan tikus," kata Budi.

"Dari exercisenya sih sepedaan bagus karena bisa meningkatkan metabolisme tubuh maka daya tahan tubuh meningkat jadi engga gampang flu batuk-batuk," pungkasnya.




Tonton video Jakarta Ibu Kota Polusi?:

[Gambas:Video 20detik]

(fds/up)