Dilema Push the Limit Vs Risiko Jantung Kolaps, Ini Wanti-wanti Dokter Timnas

Dilema Push the Limit Vs Risiko Jantung Kolaps, Ini Wanti-wanti Dokter Timnas

Radifan Fadli Rahman - detikHealth
Selasa, 30 Des 2025 08:03 WIB
Dilema Push the Limit Vs Risiko Jantung Kolaps, Ini Wanti-wanti Dokter Timnas
Olahraga yang berlebihan juga punya risiko. Foto: Getty Images/wundervisuals
Jakarta -

Istilah 'push the limit' kerap identik dengan olahraga berat, keringat berlebihan, bahkan rasa nyeri yang dianggap sebagai tanda latihan berhasil. Dorongan untuk terus meningkatkan performa memang dibutuhkan. Namun di sisi lain, memaksakan tubuh tanpa memahami batasnya bisa berujung cedera serius hingga risiko kolaps jantung.

Praktisi kebugaran dari EMC Healthcare, dr Anita Suryani, SpKO menjelaskan urusan push the limit sejatinya kembali pada dua hal utama, yaitu minat dan bakat.

"Jadi minatnya kan suka olahraga berat, bakatnya bisa ngga?" kata dr Anita, kepada detikcom pada Rabu (24/12/2025).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satu risiko paling serius dari olahraga berlebihan adalah serangan jantung yang dapat berujung pada kolaps jantung, terutama saat latihan dilakukan dengan intensitas tinggi ketika tubuh belum beradaptasi.

"Urusan serangan jantung itu terjadi kalau kebutuhan oksigen tidak sampai ke jantung yang sedang kerja lebih berat saat olahraga. Biasanya ini terjadi pada intensitas yang lebih tinggi. Semua olahraga sebenarnya bisa jadi intensitas tinggi," jelasnya.

ADVERTISEMENT

"Nyeri dari dada kiri terus berasa keteken, hilang pandangan, pusing gitu. Yang biasa kayak gitu kan dia udah kayak gitu terus dia gak dengerin. Sebenernya udah lama,"sambungnya.

Namun dr Anita menekankan, olahraga bukan satu-satunya faktor. Pola makan tidak terjaga, kurang tidur, stres, merokok, dan konsumsi alkohol tetap berperan besar. Bahkan atlet yang rutin berolahraga pun bisa mengalami serangan jantung atau stroke jika faktor-faktor tersebut diabaikan.

Start Low Go Slow

Menurut dr Anita, dalam olahraga dikenal prinsip start low go slow. Artinya, olahraga apapun tetap harus dimulai dari awal atau intensitas yang lebih rendah.

"Mau push the limit nggak apa-apa. Tapi jangan sakit Kalau sakit berarti kita udah nggak sanggup. Ada limit bawah, ada limit atas," katanya.

"Dulu bisa angkat 150 kg, tapi sudah dua tahun berhenti, jangan mulai dari situ lagi. Mulai dari 80 dulu, nanti nambah lagi," tutupnya.

Adaptasi tubuh tidak bisa dipercepat secara instan harus perlahan. Dorongan untuk push the limit boleh dilakukan saat tubuh siap tanpa menimbulkan cedera.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Pria Lebih Rentan Kena Serangan Jantung daripada Wanita"
[Gambas:Video 20detik]
(rfd/up)
Tren Kebugaran 2026
13 Konten
Tren gaya hidup sehat diwarnai dengan kemunculan berbagai variasi olahraga kekinian. Terbaru, padel yang kemudian disusul dengan pickle ball. Seperti apa prediksi tren ke depannya? Simak juga saran pakar biar dapat sehatnya, tak cuma dapat gengsinya.
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads