Di kalangan runner, kondisi ini kerap dikaitkan dengan runner's trot, yakni gangguan saluran cerna yang muncul saat berlari jarak jauh. Gejalanya bisa berupa perut mulas, kram, mual, sering kentut, hingga diare mendadak di tengah race.
Spesialis kedokteran olahraga, dr Antonius Andi Kurniawan, SpKO mengatakan dalam dunia medis, fenomena ini dikenal sebagai exercise-induced gastrointestinal distress.
Salah satu faktor yang menyebabkan rasa mules muncul tiba-tiba saat balapan adalah splanchnic ischemia, yakni saat lari intensitas tinggi tubuh memprioritaskan aliran darah ke otot kerja dan kulit (untuk pelepasan panas).
Aliran darah ke usus bisa turun hingga 80 persen. Usus yang 'kekurangan oksigen' ini jadi lebih sensitif, motilitasnya kacau, dan permeabilitasnya meningkat.
"Ambang batas di mana splanchnic ischemia jadi signifikan ada di sekitar 60-70 persen VO2max ke atas," kata dr Andi saat dihubungi detikcom, Kamis (28/5/2026).
"Race pace untuk sebagian besar pelari ada di atas threshold ini. Ini menjelaskan kenapa banyak pelari hanya mengalami runner's trot di race day, tidak saat training," sambungnya.
Dengan kata lain, lanjut dr Andi, semakin tinggi intensitas lari seseorang maka redistribusi darah dari usus akan semakin besar, dan meningkatkan pula risiko mules.
Simak Video "Video: Yang Perlu Dipersiapkan Buat Minimalkan Risiko Pas Ikutan Trail Run"
(dpy/up)