Kolom Gizi

Waspadai Natrium Tersembunyi di Balik Menu Sahur Serba Praktis

Fitri Isnia Nuryani, S.Pt - detikHealth
Selasa, 10 Mar 2026 07:07 WIB
Waspadai natrium tinggi. Foto: Getty Images/nazdravie
Jakarta -

Sahur sering kali harus dilewatkan dengan makan yang serba praktis, terlebih saat bangun terlambat. Ketika waktu memasak terbatas di pagi hari, banyak orang memilih lauk olahan seperti nugget, sosis, kornet, atau bakso instan karena mudah disiapkan dan rasanya disukai berbagai kalangan.

Namun, di balik kepraktisannya, lauk olahan umumnya memiliki kandungan natrium (Na) yang cukup tinggi. Jika dikonsumsi berlebihan, natrium atau sodium dapat memengaruhi keseimbangan cairan tubuh dan membuat seseorang lebih cepat merasa haus saat berpuasa. Karena itu, penting bagi konsumen untuk lebih bijak dalam memilih produk lauk olahan, salah satunya dengan memperhatikan komposisi bahan dan informasi nilai gizi pada kemasan.

Lalu, bagaimana cara memilih lauk olahan yang lebih bijak untuk dikonsumsi saat sahur?

Perhatikan Daftar Komposisi pada Kemasan

Salah satu langkah paling sederhana untuk menilai kualitas lauk olahan adalah dengan membaca daftar komposisi pada kemasan. Informasi ini biasanya tercantum di bagian belakang produk dan memuat bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan makanan tersebut.

Menurut ketentuan pelabelan pangan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), bahan pada daftar komposisi ditulis berdasarkan jumlah terbanyak hingga paling sedikit. Artinya, bahan yang tercantum di urutan pertama merupakan komponen yang paling dominan dalam produk.

Karena itu, konsumen dapat memperhatikan beberapa hal sederhana saat membaca label. Jika pada urutan awal komposisi tercantum gula, garam, atau minyak, sebaiknya produk tersebut dipertimbangkan kembali atau dikonsumsi dengan lebih bijak karena bahan tersebut digunakan dalam jumlah relatif besar.

Pada produk seperti nugget atau sosis ayam, sebaiknya pilih produk yang mencantumkan daging ayam sebagai bahan pertama dalam daftar komposisi. Hal ini dapat menjadi indikasi bahwa kandungan dagingnya lebih dominan. Sebaliknya, jika urutan awal justru diisi oleh tepung, pati, atau bahan pengisi lain, kemungkinan kandungan dagingnya lebih sedikit.

Selain itu, konsumen juga bisa memperhatikan jumlah Bahan Tambahan Pangan (BTP) dalam produk. Secara umum, daftar komposisi yang lebih pendek dan mudah dipahami dapat menjadi salah satu indikator bahwa produk tidak menggunakan terlalu banyak bahan tambahan.

Bagi masyarakat awam, jika menemukan banyak nama bahan yang terasa asing atau menyerupai istilah kimia, produk tersebut bisa jadi termasuk ultra-processed food (UPF) menurut klasifikasi WHO. Jenis makanan ini umumnya melalui proses pengolahan lebih kompleks dan sering mengandung berbagai bahan tambahan.

Beberapa bahan tambahan yang cukup umum ditemukan pada makanan olahan antara lain natrium nitrit yang sering digunakan sebagai pengawet pada daging olahan, sirup fruktosa tinggi (high fructose corn syrup) sebagai pemanis tambahan, serta kalium sorbat yang digunakan sebagai pengawet untuk mencegah pertumbuhan jamur pada produk pangan. Bahan-bahan ini sebenarnya diizinkan dalam batas tertentu oleh otoritas keamanan pangan, tetapi konsumsinya tetap perlu diperhatikan agar tidak berlebihan, terutama jika makanan olahan sering dijadikan menu sahur.



Simak Video "Video: Takjil Kurma Ditambah Butter, Berapa Kalorinya?"


(fti/up)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork