Heart Rate Kevin Diks Pernah Tembus 300 Saat Penalti, Kok Bisa Setinggi Itu?

Devandra Abi Prasetyo - detikHealth
Selasa, 06 Okt 2026 15:13 WIB
Kevin Diks saat menendang penalti di final FIFA ASEAN Cup 2026 (Foto: Agung Pambudhy/detikFoto)
Jakarta - Kevin Diks bertugas sebagai algojo pertama dalam drama adu penalti antara Timnas Indonesia vs Timnas Thailand di final FIFA ASEAN Cup 2026. Raut muka tegangnya Diks jadi sorotan sebelum mengeksekusi bola.

Diks menjadi eksekutor pertama dari Timnas Indonesia saat adu penalti. Usai menceploskan bola, ia langsung merayakannya dengan penonton di kejauhan.

Sebenarnya, Kevin Diks adalah salah satu eksekutor penalti utama dan andalan di klub Bundesliga Borussia Mönchengladbach. Namun, tetap saja, ia mengaku masih tetap deg-degan saat berdiri di titik 12 pas.

Bahkan, sebelumnya ia pernah mengatakan bahwa detak jantungnya atau heart rate berdebar kencang sampaik 300 beat per minute saat mengeksekusi penalti.

Kejadian berbahaya ini dialami bek kanan Timnas Indonesia tersebut saat ia sukses menciptakan gol debut di Bundesliga, Jerman, kala timnya menggulung FC Koln 3-1, di Borussia-Park, Minggu (9/11/2025) dini hari WIB.

"Bahkan setelah penalti pertama, detak jantung saya sudah 300. Itu bukan penalti terbaik saya, tetapi masuk. Hanya itu yang penting," ujar Diks, dikutip dari laman Bundesliga.

Detak Jantung Normal

Sebagai informasi, detak jantung normal manusia ada di 60-100 detak per menit. Namun, angka ini bisa saja naik tergantung pada situasi yang sedang dialami seseorang.

Bagi orang biasa, HR yang menyentuh 300 bpm merupakan kondisi yang berbahaya. Hal ini berpotensi menimbulkan masalah seperti henti jantung mendadak, pingsan, hingga gagal jantung.

Ditanya mengenai hal ini, spesialis bedah toraks, kardiak, dan vaskular Sugisman, SpBTKV(K) dari BraveHeart Brawijaya Hospital mengatakan kemungkinan yang "menyelamatkan" Diks dari kondisi tersebut adalah gaya hidup atletnya.

"(yang menyelamatkan dia) mungkin gaya hidup atletnya," kata Sugisman. kepada detikcom beberapa waktu lalu.

"Biasanya seorang atlet itu denyut jantungnya justru jauh lebih efektif. Biasanya denyut jantungnya lebih rendah. Tapi pada saat kegiatan tertentu, emosi yang tinggi, tekanan tinggi, kecemasan tinggi, memang respons irama jantung akan meningkat," tutupnya.

Lihat juga Video 'Ole Romeny Ajak 'Marselino' Ikut Pesta Juara FIFA ASEAN Cup 2026':




(dpy/suc)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork